Pendahuluan

2 11 2009

Pengobatan merupakan suatu proses ilmiah yang dilakukan oleh dokter
berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh selama anamnesis dan
pemeriksaan. Dalam proses pengobatan terkandung keputusan ilmiah yang
dilandasi oleh pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan intervensi
pengobatan yang memberi manfaat maksimal dan resiko sekecil mungkin
bagi pasien. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan pengobatan yang
rasional.
Pengobatan rasional menurut WHO 1987 yaitu pengobatan yang sesuai
indikasi, diagnosis, tepat dosis obat, cara dan waktu pemberian, tersedia
setiap saat dan harga terjangkau.
Salah satu perangkat untuk tercapainya penggunaan obat rasional adalah
tersedia suatu pedoman atau standar pengobatan yang dipergunakan secara
seragam pada pelayanan kesehatan dasar atau puskesmas.
Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas pertama kali diterbitkan pada
tahun 1985 dan mendapat tanggapan yang sangat menggembirakan bagi
pelaksana pelayanan kesehatan dasar. Telah pula dicetak ulang beberapa
kali dan terakhir tahun 2002 tanpa merubah isinya.
Oleh karena kemajuan yang pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi
kedokteran maupun farmasi menuntut tersedianya suatu pedoman yang
mengikuti perkembangan, sehingga perlu merevisi pedoman tersebut.
Tujuan dan Manfaat Pedoman Pengobatan
A. Tujuan Pedoman Pengobatan.
Tujuan Pedoman Pengobatan dikelompokkan dalam beberapa hal:
a. Mutu Pelayanan Pengobatan.
Oleh karena Pedoman Pengobatan hanya memuat obat yang terpilih
untuk masing-masing penyakit / diagnosis.
b. Standar Profesi.
Senantiasa menjadi standar profesi setinggi-tingginya karena disusun
dan diputuskan atas kesepakatan para ahli.
c. Pengamanan Hukum.
Merupakan landasan hukum dalam menjalankan profesi karena
disusun dan disepakati para ahli dan diterbitkan oleh pemerintah.
d. Kebijakan dan Manajemen Obat.
Perencanaan obat yang digunakan akan lebih tepat, secara langsung
dapat mengoptimalkan pembiayaan pengobatan.

B. Manfaat Pedoman Pengobatan.
Beberapa manfaat dengan adanya pedoman pengobatan:
1. Untuk pasien.
Pasien hanya memperoleh obat yang benar dibutuhkan.
2. Untuk Pelaksana Pengobatan.
Tingkat profesionalisme tinggi karena sesuai dengan standar.
3. Untuk Pemegang Kebijakan Kesehatan dan Pengelolaan Obat.
Pengendalian biaya obat dan suplai obat dapat dilaksanakan dengan
baik.
II. Kerangka Penyusunan / Revisi Pedoman
Kessner, dalam tulisannya di New England Journal of Medicine tahun 1973
memberikan petunjuk dalam memilih diagnosis penyakit yang perlu disusun
dalam kaitan mengukur mutu, yaitu:
1. Penyakit tersebut mempunyai dampak fungsional yang besar.
2. Merupakan penyakit yang jelas batas-batasnya dan relatif mudah
mendiagnosisnya.
3. Prevalensinya relatif cukup tinggi.
4. Perjalanan penyakitnya dapat secara nyata dipengaruhi oleh tindakan
medis yang ada.
5. Pengelolaannya dapat ditetapkan secara jelas.
6. Faktor non-medis yang mempengaruhinya sudah diketahui.
Dengan penyesuaian pola di atas, oleh para penyusun disepakati diagnosis
penyakit yang dimasukkan dalam revisi pedoman ini sebagai berikut:
1. Pola penyakit terbanyak secara nasional di pelayanan kesehatan dasar.
2. Program prioritas kesehatan terutama yang ditunjukkan pada penurunan
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
3. Program kesehatan spesifik yang telah ada.
4. Penyakit-penyakit baru termasuk beresiko terhadap kesehatan masyarakat
yang memperoleh perhatian dunia internasional.
5. Diagnosis penyakit spesifik daerah endemis.
6. Obat-obat yang digunakan tersedia di pelayanan kesehatan dasar /
puskesmas.
7. Penyusunan diagnosis disesuaikan dengan kompetensi dokter dan sistem
pelaporan yang ada.

III. Metode Penyusunan
Penyusunan pedoman ini terdiri dari:
1. Panitia Penyusunan Pedoman.
2. Kontributor.
3. Tim Pakar / Ahli.
Langkah-langkah penyusunan Pedoman:
I. Penyusunan konsep / draft.
Oleh Panitia Penyusunan ditambah kontributor baik lintas program
maupun lintas sektoral.
II. Pembahasan konsep / draft.
Oleh : – Panitia Penyusunan.
- Kontributor.
- Pakar / Ahli.
III. Pembahasan akhir.
Oleh : – Panitia Penyusunan.
- Kontributor.
- Pakar / Ahli.
IV. Uji coba di puskesmas pada beberapa daerah.
Walaupun secara ringkas langkah-langkah penyusunan diuraikan di
atas akan tetapi pada setiap langkah tersebut pertemuan pembahasan
beberapa kali dilakukan untuk mencapai hasil yang maksimal.
IV. Acuan terhadap Standar Kompetensi Dokter
Standar Kompetensi Dokter telah diterbitkan oleh Konsil Kedokteran
Indonesia tahun 2006 dalam rangka memenuhi amanah Undang-Undang
RI No.29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran.
Standar Kompetensi Dokter ini dijadikan acuan dalam menyusun pedoman
pengobatan, sehingga dengan kompetensi ini seorang profesi dokter akan
mampu :
- Mengerjakan tugas / pekerjaan profesinya.
- Mengorganisasikan tugasnya secara baik.
- Tanggap dan tahu yang dilakukan bila terjadi sesuatu yang berbeda.
- Menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk memecahkan masalah
di bidang profesinya.
- Melaksanakan tugas dengan kondisi berbeda.

Dalam Standar Kompetensi Dokter ada beberapa komponen kompetensi,
akan tetapi hanya kompetensi inti pada area pengelolaan masalah kesehatan
terutama pada daftar penyakit yang dipilih menurut perkiraan data kesakitan
dan kematian yang terbanyak di Indonesia pada tingkat pelayanan kesehatan
dasar.
Pengertian dan tingkat Kemampuan pengelolaan penyakit :
§ Tingkat Kemampuan 1
Dapat mengenali dan menempatkan gambaran-gambaran klinik sesuai
penyakit ini ketika membaca literatur. Dalam korespondensi, ia dapat
mengenal gambaran klinik ini, dan tahu bagaimana mendapatkan
informasi lebih lanjut. Level ini mengindikasikan overview level. Bila
menghadapi pasien dengan gambaran klinik ini dan menduga penyakitnya,
Dokter segera merujuk.
§ Tingkat Kemampuan 2
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya
: pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter mampu
merujuk pasien secepatnya ke spesialis yang relevan dan mampu
menindaklanjuti sesudahnya.
§ Tingkat Kemampuan 3
3a. Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter
(misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter
dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk
ke spesialis yang relevan (bukan kasus gawat darurat).
3b. Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter
(misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter
dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk
ke spesialis yang relevan (kasus gawat darurat).
§ Tingkat Kemampuan 4
Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter
(misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokterdapat memutuskan dan mampu menangani problem itu secara mandiri
hingga tuntas.
Pada setiap diagnosis penyakit dalam pedoman ini dilengkapi dengan tingkat
kemampuan kompetensi dokter dan kode penyakit (ICD X) serta nomor kode
penyakit pada sistem pelaporan








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.