KONJUNGTIVITIS PURULENTA NEONATORUM

3 11 2009

Definisi
Radang konjungtiva yang terjadi pada bayi yang baru lahir.
Gejala muncul beberapa jam sampai 3 hari pasca lahir.
Penyebab
Bayi baru lahir tertular infeksi gonore oleh ibunya ketika melewati jalan lahir.
Gejala Klinis
– Kelopak mata bengkak dan konjungtiva hyperemia hebat
– Sekret mata purulen yang kadang bercampur darah.
– Hasil pemeriksaan sekret atau kerokan konjungtiva dengan pewarnaan Gram
memperlihatkan banyak sekali sel polimorfonuklear. Kuman N.gonorrhoeae
khas tampak sebagai kokus gram negatif yang berpasangan seperti biji kopi,
tersebar di luar dan di dalam sel.
Diagnosis
Sekret purulen dengan riwayat ibu gonore.
Penatalaksanaan
– Pengobatan harus segera diberikan dengan intensif karena gonore ini dapat
menyebabkan perforasi kornea yang berakhir dengan kebutaan.
– Bayi ini harus diisolasi untuk mencegah penularan.
– Mata dibersihkan dahulu kemudian diberi salep mata penisilin setiap 15 menit
– Secara sistemik diberikan penisilin prokain i.m. dosis tunggal 50.000
IU/kgBB/hari selama 5 hari.
– Kedua orang tua sebagai sumber infeksi juga harus diperiksa dan diobati.
– Bila pemeriksaan sekret telah negatif 3 hari berturut-turut, maka penderita
boleh dipulangkan dan pemberian salep mata diteruskan 3 kali sehari. Seminggu
kemudian bila pemeriksaan sekret masih negatif pengobatan dihentikan.





KUSTA

3 11 2009

Definisi
Kusta atau lepra adalah suatu penyakit kulit menular menahun yang disebabkan
oleh kuman Mycobacterium leprae. Serangan kuman yang berbentuk batang ini
biasanya pada kulit, saraf tepi, mata, selaput lendir hidung, otot, tulang dan buah
zakar.
Penyebab
Kuman Mycobacterium leprae.
Gambaran Klinis
Tanda utama ( Cardinal sign ) :
– Kelainan pada kulit, berupa bercak yang berwarna putih (hipopigmentasi)
yang tak berasa atau kemerahan (eritematosus) yang mati rasa.
– Penebalan syaraf tepi.
– Gejala pada kulit, penderita kusta adalah pada kulit terjadi benjol-benjol kecil
berwarna merah muda atau ungu. Benjolan kecil ini menyebar berkelompok
dan biasanya terdapat pada mata dan mungkin juga timbul di hidung hingga
menyebabkan perdarahan.
– Gejala pada saraf, berkurangnya perasaan pada anggota badan atau bagian
tubuh yang terkena. Kadang-kadang terdapat radang syaraf yang nyeri.
Adakalanya kaki dan tangan berubah bentuknya. Jari kaki sering hilang akibat
serangan penyakit ini. Penderita merasa demam akibat reaksi penyakit tersebut.
– Penyakit kusta terdapat dalam bermacam-macam bentuk. Bentuk leproma
mempunyai kelainan kulit yang tersebar secara simetris pada tubuh. Bentuk
ini menular karena kelainan kulitnya mengandung banyak kuman.
– Ada juga bentuk tuberkuloid yang mempunyai kelainan pada jaringan syaraf
yang mengakibatkan cacat pada tubuh. Bentuk ini tidak menular karena kelainan
kulitnya mengandung sedikit kuman. Di antara bentuk leproma dan tuberkuloid
ada bentuk peralihan yang bersifat stabil dan mudah berubah-ubah.
– Penyakit ini ditularkan melalui kontak erat dari kulit ke kulit dalam waktu
yang cukup lama. Namun ada dugaan bahwa penyakit ini juga dapat ditularkan
melalui udara pernapasan dari penderita yang selaput hidungnya

- terkena. Tidak semua orang yang berkontak dengan kuman penyebab akan
menderita penyakit kusta. Hanya sedikit saja yang kemudian tertulari, sementara
yang lain mempunyai kekebalan alami.
– Masa inkubasi penyakit ini dapat sampai belasan tahun. Gejala awal penyakit
ini biasanya berupa kelainan kulit seperti panau yang disertai hilangnya rasa
raba pada kelainan kulit tersebut.
Diagnosis
Dari gejala klinik
Penatalaksanaan
Klasifikasi Kusta menurut WHO untuk memudahkan pengobatan di lapangan :
– PB ( Pauci Bacillery )
– MB ( Multi Bacillary )
Prinsip Multi Drug Treatment (pengobatan kombinasi Regimen MDT-Standar
WHO)
a. Regimen MDT-Pausibasiler
– Rifampisin
Dewasa : 600 mg/bulan, disupervisi
Berat badan < 35 kg : 450 mg/bulan
Anak 10 – 14 th : 450 mg/bulan (12 – 15 mg/kg BB/hari)
Rifampisin : diminum di depan petugas ( Hari pertama )
· Dewasa : 600 mg/bulan
· Anak 10 – 14 tahun : 450 mg/bulan
· Anak 5 – 9 tahun : 300 mg/bulan
Dapson :
· Dewasa : 100 mg/hari
· Anak 10 – 14 tahun : 50 mg/hari
· Anak 5 – 9 tahun : 25 mg/hari
Diberikan dalam jangka waktu 6 – 9 bulan.
– Dapson
Dewasa : 100 mg/hari
Berat badan < 35 kg : 50 mg/hari
Anak 10 – 14 th : 50 mg/hari (1 – 2 mg/kg BB/hari)
Lama pengobatan : diberikan sebanyak 6 regimen dengan jangka
waktu maksimal 9 bulan.

b. Regimen MDT-Multibasiler
– Rifampisin
Dewasa : 600 mg/bulan, disupervisi
Dilanjutkan dengan 50 mg/hari
Anak 10 – 14 th : 450 bulan (12 – 15 mg/kg BB/bulan)
Rifampisin : diminum di depan petugas ( Hari pertama )
· Dewasa : 600 mg/bulan
· Anak 10 – 14 tahun : 450 mg/bulan
· Anak 5 – 9 tahun : 300 mg/bulan
Lampren :
· Dewasa : 300 mg/bulan
· Anak 10 – 14 tahun : 150 mg/bulan
· Anak 5 – 9 tahun : 100 mg/bulan
Dapson :
· Dewasa : 100 mg/hari
· Anak 10 – 14 tahun : 50 mg/hari
· Anak 5 – 9 tahun : 25 mg/hari
Diberikan sebanyak 12 blister dengan jangka waktu 12 – 18 bulan.
– Lampren
Dewasa : 300 mg/bulan, disupervisi
Dilanjutkan dengan 50 mg/hari
Anak 10 – 14 th : 200 mg/bulan, disupervisi
Dilanjutkan dengan 50 mg selang sehari.
– Dapson
Dewasa : 100 mg/hari.
Berat badan < 35 kg: 50 mg/hari
Anak 10-14 tahun : 50 mg/hari(1 – 2 mg/hari/Kg BB/hari)
Lama pengobatan : diberikan sebanyak 24 regimen dengan jangka
waktu maksimal 36 bulan sedapat mungkin sampai apusan kulit menjadi
negatif.





LEPTOSPIROSIS

3 11 2009

Definisi
Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi bakteri
berbentuk spiral dan bergerak aktif yang dinamakan leptospira, yang menyerang
hewan dan manusia dan dapat hidup di air tawar selama lebih kurang 1 bulan.
Tetapi dalam air laut, selokan dan air kemih yang tidak diencerkan akan cepat
mati.
Penyebab
Kontak dengan air, tanah atau tanaman yang telah tercemar oleh air seni hewan
yang menderita leptospirosis. Bakteri masuk ke dalam tubuh manusia melalui
selaput lendir (mukosa) mata, hidung, kulit yang lecet atau makanan yang
terkontaminasi oleh urin hewan terinfeksi leptospira.
Gambaran klinis
Masa inkubasi berkisar 7 – 13 hari (rata-rata 10 hari).
Stadium Pertama
– Demam ringan atau tinggi yang umumnya bersifat remiten
– Nyeri kepala
– Menggigil
– Mialgia
– Mual, muntah dan anoreksia
– Nyeri kepala dapat berat, mirip yang terjadi pada infeksi dengue, disertai nyeri
retro-orbital dan fotopobia
– Nyeri otot terutama di daerah betis sehingga pasien sukar berjalan, punggung
dan paha.
– Sklera ikterik dan conjunctival suffusion atau mata merah dan pembesaran
kelenjar getah bening, limpa maupun hati.
– Kelainan mata berupa uveitis dan iridosiklitis.
Gejala yang Kharakteristik
– Konjungtivitis tanpa disertai eksudat serous/porulen (kemerahan pada
mata)
– Rasa nyeri pada otot-otot

Stadium Kedua
– Terbentuk anti bodi di dalam tubuh penderita
– Gejala yang timbul lebih bervariasi dibandingkan dengan stadium pertama
– Apabila demam dengan gejala-gejala lain timbul kemungkinan akan terjadi
meningitis.
– Stadium ini terjadi biasanya antara minggu kedua dan keempat.
Diagnosis
Dalam anamnesis perlu ditanyakan riwayat pekerjaan pasien sebelum sakit muncul,
apakan termasuk kelompok risiko tinggi, riwayat bepergian ke hutan belantara,
rawa, sungai dan lain-lain.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala / keluhan berupa demam mendadak,
nyeri kepala terutama di bagian frontal, mata merah / fotofobia, keluhan
gastrointestinal dan lain-lain.
Pada pemeriksaan fisik dijumpai bradikardi, nyeri tekan otot, rash hepatomegali
dan lain-lain.
Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin dapat dijumpai leukositosis, jumlah
leukosit normal atau sedikit menurun disertai gambaran neutrofilia dan laju endap
darah yang meninggi. Pada urin dijumpai proteinuria, leukosituria dan terdapat
torak. Bilirubin dalam darah bisa meninggi kalau organ hati telah terlibat, dan
peninggian transaminase. Juga bisa dijumpai peninggian BUN, ureum dan kreatinin
darah akibat keterlibatan ginjal.
Penatalaksanaan
– Penisilin adalah obat pilihan utama untuk pengobatan penyakit ini. Pemberian
hari ke 1 – 3 mulainya infeksi memberikan hasil yang sangat baik, pemberian
hari ke 4 – 6 hasilnya kurang memuaskan, lewat hari ke-7 tidak begitu
bermanfaat. Biasanya diberikan penisilin G dengan dosis tinggi sebanyak
600.000 unit setiap 4 jam, kalau penyakit lebih berat dosis dapat ditingkatkan,
bahkan sampai 8 – 12 juta unit/hari. Bila penderita datang pada hari ke-7,
WHO menganjurkan pemberian penisilin G dengan dosis 6 – 12 juta unit/hari
pada hari-hari pertama.
– Pilihan lain, Amoksisilin 500 mg 3 x sehari peroral, selama 7 – 10 hari.
– Pasien alergi penisilin dapat diberikan tetrasiklin atau eritromisin dengan
khasiat yang kurang efektif. Tetrasiklin tidak dapat diberikan jika pasien
mengalami gagal ginjal. Tetrasiklin diberikan secepatnya dengan dosis 250
mg setiap 8 jam im atau iv. selama 24 jam, kemudian 250 – 500 mg setiap

- 6 jam secara oral selama 6 hari. Eritromisin diberikan dengan dosis 250 mg
setiap jam selama 5 hari.
– Tindakan suportif dilakukan sesuai dengan keparahan penyakit dan
komplikasi yang timbul





LUKA BAKAR

3 11 2009

Definisi
Luka Bakar adalah cedera pada jaringan tubuh akibat panas, bahan kimia maupun
arus listrik.
Penyebab
Akibat panas, bahan kimia maupun arus listrik.
Gambaran Klinis
Beratnya luka bakar tergantung kepada jumlah jaringan yang terkena dan kedalaman
luka:
– Luka bakar derajat I
Merupakan luka bakar yang paling ringan. Kulit yang terbakar menjadi merah,
nyeri, sangat sensitif terhadap sentuhan dan lembab atau membengkak. Jika
ditekan, daerah yang terbakar akan memutih; belum terbentuk lepuhan.
– Luka bakar derajat II
Menyebabkan kerusakan yang lebih dalam. Kulit melepuh, dasarnya tampak
merah atau keputihan dan terisi oleh cairan kental yang jernih. Jika disentuh
warnanya berubah menjadi putih dan terasa nyeri.
– Luka bakar derajat III
Menyebabkan kerusakan yang paling dalam.
Permukaannya bisa berwarna putih dan lembut atau berwarna hitam, hangus
dan kasar. Kerusakan sel darah merah pada daerah yang terbakar bisa
menyebabkan luka bakar berwarna merah terang. Kadang daerah yang terbakar
melepuh dan rambut / bulu di tempat tersebut mudah dicabut dari akarnya.
Jika disentuh, tidak timbul rasa nyeri karena ujung saraf pada kulit telah
mengalami kerusakan. Jika jaringan mengalami kerusakan akibat luka bakar,
maka cairan akan merembes dari pembuluh darah dan menyebabkan
pembengkakan. Kehilangan sejumlah besar cairan karena perembesan tersebut
bisa menyebabkan terjadinya syok. Tekanan darah sangat rendah sehingga
darah yang mengalir ke otak dan organ lainnya sangat sedikit.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.

Penatalaksanaan
Sekitar 85% luka bakar bersifat ringan dan penderitanya tidak perlu dirawat di
rumah sakit. Untuk membantu menghentikan luka bakar dan mencegah luka lebih
lanjut, sebaiknya lepaskan semua pakaian penderita. Kulit segera dibersihkan dari
bahan kimia (termasuk asam, basa dan senyawa organik) dengan mengguyurnya
dengan air.
Penderita langsung dirujuk jika:
– Luka bakar mengenai wajah, tangan, alat kelamin atau kaki
– Terkena arus listrik dan sambaran petir
– Penderita akan mengalami kesulitan dalam merawat lukanya secara baik dan
benar di rumah.
– Penderita berumur kurang dari 2 tahun atau lebih dari 70 tahun
– Terjadi luka bakar pada organ dalam.
Luka Bakar Ringan
– Jika memungkinkan, luka bakar ringan harus segera dicelupkan ke dalam air
dingin. Luka bakar kimia sebaiknya dicuci dengan air sebanyak dan selama
mungkin. Di tempat praktek dokter atau di ruang emergensi, luka bakar
dibersihkan secara hati-hati dengan sabun dan air untuk membuang semua
kotoran yang melekat. Jika kotoran sukar dibersihkan, daerah yang terluka
diberi obat bius dan digosok dengan sikat. Lepuhan yang telah pecah biasanya
dibuang. Jika daerah yang terluka telah benar-benar bersih, maka dioleskan
krim antibiotik (misalnya perak sulfadiazin).
– Untuk melindungi luka dari kotoran dan luka lebih lanjut, biasanya
dipasang verban. Sangat penting untuk menjaga kebersihan di daerah yang
terluka, karena jika lapisan kulit paling atas (epidermis) mengalami
kerusakan maka bisa terjadi infeksi yang dengan mudah akan menyebar.
Jika diperlukan, untuk mencegah infeksi bisa diberikan antibiotik, Untuk
mengurangi pembengkakan, lengan atau tungkai yang mengalami luka
bakar biasanya diletakkan/digantung dalam posisi yang lebih tinggi dari
jantung. Pembidaian harus dilakukan pada persendian yang mengalami luka
bakar derajat II atau III, karena pergerakan bisa memperburuk keadaan
persendian. Mungkin perlu diberikan obat pereda nyeri selama beberapa
hari. Pemberian booster tetanus disesuaikan dengan status imunisasi
penderita

Luka Bakar Berat
Luka bakar yang lebih berat dan membahayakan nyawa penderitanya harus
segera ditangani, sebaiknya dirawat di rumah sakit.





MALARIA

3 11 2009

Definisi
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang
hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini ditularkan
melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Penyakit ini merupakan salah satu
masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.
Penyebab
Ada 4 jenis plasmodium pada manusia yaitu :
· Plasmodium falciparum
· Plasmodium vivax
· Plasmodium ovale
· Plasmodium malariae
Gambaran Klinis
1. Masa inkubasi berkisar 1-2 minggu.
2. Keluhan utama pada malaria tanpa komplikasi : demam, menggigil, berkeringat
dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegalpegal.
3. Gejala pada malaria dengan kompilasi (malaria berat) : gangguan kesadaran,
keadaan umum yang lemah, kejang-kejang, panas sangat tinggi, perdarahan,
warna air seni seperti teh tua dan gejala lainnya.
4. Malaria falciparum yang sering menyebabkan terjadinya malaria dengan
komplikasi (malaria berat).
Diagnosis
Malaria diagnosis dengan pemeriksaan yaitu :
1. Rapid Diagnositik Test dengan mekanisme kerja berdasarkan deteksi antigen
parasit malaria, yang bermanfaat digunakan pada unit gawat darurat, saat
kejadian luar biasa dan daerah terpencil yang tidak terdapat fasilitas laboratorium.
2. Pemeriksaan dengan mikroskop
Dilakukan dengan menemukan parasit dalam pulasan darah yang diwarnai
Giemsa dan diperiksa dengan mikroskop dengan pembesar 700-1000 x.
Penatalaksanaan
Pengobatan malaria tanpa komplikasi :
a. Malaria Farciparrum

· Lini I : Artesunate+Amodiaguin dosis tunggal selama 3 hari +
primakuin pada hari I
Artesunate : 4 mg/kgbb/hari
Amodiaquin : 10 mg/kgbb/hari
Primakuin : 0,75 mg/kgbb/hari
* Primakuin tidak boleh diberikan pada ibu hamil dan bayi < 1 tahun
dan penderita G6PD.
· Lini II : Kina Terasiklin/Doksisiklinselama 7 hari + Primakuin pada
hari I
Kina : 10 mg/kgbb/kali (3 x sehari) selama 7 hari
Doksisiklin dewasa : 4 mg/kgbb/kali (2 x sehari) selama 7 hari
Doksisiklin (8-14 tahun) : 2 mg/kgbb/kali (2 x sehari) selama 7 hari
Tetrasiklin : 4-5 mg/kgbb/kali (4 x sehari) selama 7 hari
Primakuin : 0,75 mg/kgbb/hari
* Doksisiklin/Terasiklin tidak boleh diberikan pada anak dengan
umur dibawah 8 tahun dan ibu hamil.
* Primakuin tidak boleh diberikan pada ibu hamil dan bayi < 1 tahun
dan penderita G6PD.
b. Malaria vivax
Untuk daerah yang masih sensitif klorokuin dapat diberikan
· Lini I : Klorokuin dosis tunggal perhari selama 3 hari + primakuin
selama 14 hari
Klorokuin : Hr 1: 10 mg, Hr 2: 10 mg. Hr 3: 5 mg
Primakuin : 0,25-0,5 mg/kgbb/hr selama 14 hari
Untuk daerah yang resisten klorokuin terhadap malaria vivak dapat
diberikan Artesunate+ Amodiakuin selama 3 hari (dosis sama dengan
falciparum)+Primakuin selama 14 hari dosis 0,25-0,5 mg/kgbb/hr.
· Lini II : Kina (3xsehari) selama 7 hari+Primakuin 14 hari
Kina : 10 mg/kgbb/kali (3 x sehari) selama 7 hari
Primakuin : 0,25 mg/kgbb/hr selama 14 hari
b. Malaria mix (malaria facciparum+malaria vivax)
Pengobatan diberikan :
Artesunate + amodiaquin (selama 3 hari) + Primakuin selama 14 hari
Artesunate : 4 mg/kgbb/hari
Amodiaquin : 10 mg/kgbb/hari
Primakuin : 0,25-0,5 mg/kgbb/hari selama 14 hari
Lihat buku Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria Oleh Subdit Malaria,
Direktorat PBB, Ditjen PP & PL.

 





MIGREN

3 11 2009

Definisi
Serangan nyeri kepala sesisi yang berulang, beragam beratnya, lamanya dan
kekerapannya mungkin merupakan serangan migren. Migren klasik diawali selama
+ 60 menit.
Penyebab
Gangguan vaskular.
Gambaran Klinis
– Nyeri kepala khas berdenyut, unilateral dan bertambah berat setelah aktivitas
fisik.
– Penderita mengeluh mual sampai muntah dan terdapat anoreksia, fotofobia
atau fenofobia.
– Migren klasik diawali atau disertai dengan gangguan sensorik, motorik atau
suasana hati (mood). Pada periode awal ini penderita mungkin merasa gelisah,
tidak nafsu makan dan mudah tersinggung. Gangguan motorik dapat berupa
hemiparesis, sedangkan gangguan sensorik mungkin berupa parestesia,
hemianopsia atau seolah melihat kilat.
Diagnosis
Nyeri kepala sesisi.
Penatalaksanaan
– Serangan migren sering dicetuskan oleh makanan tertentu, ketegangan emosi
dan kelelahan fisik. Hal-hal itu harus diidentifikasi dan dihindarkan.
– Serangan diatasi dengan :
§ asetosal, parasetamol atau asam mefenamat 500 mg
§ tablet ergotamin 1mg, dosis disesuaikan kondisi penyakit





MORBILI (Campak)

3 11 2009

Definisi
Morbili ialah penyakit infeksi virus akut yang bermanifestasi dalam 3 stadium
yaitu stadium kataral, erupsi dan konvalens.
Penyebab
Penyebab penyakit campak adalah virus campak atau morbili. Pada awalnya,
gejala campak agak sulit dideteksi.
Gambaran Klinis
Secara garis besar penyakit campak dibagi menjadi 3 fase:
1. Fase pertama disebut masa inkubasi yang berlangsung sekitar 10 – 12 hari.
Pada fase ini anak sudah mulai terkena infeksi tapi pada dirinya belum tampak
gejala apapun. Bercak-bercak merah yang merupakan ciri khas campak belum
keluar.
2. Pada fase kedua (fase prodormal) barulah timbul gejala yang mirip penyakit
flu seperti batuk, pilek dan demam. Mata tampak kemerah-merahan dan berair.
Bila melihat sesuatu, mata akan silau (fotofobia). Di sebelah dalam mulut
muncul bintik-bintik putih yang akan bertahan 3 – 4 hari. Terkadang anak juga
mengalami diare. 1 – 2 hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik,
berkisar 38 – 40,5 oC
3. Fase ketiga ditandai dengan keluarnya bercak merah seiring dengan demam
tinggi yang terjadi. Namun bercak tak langsung muncul di seluruh tubuh
melainkan bertahap dan merambat. Bermula dari belakang telinga, leher, dada,
muka, tangan dan kaki. Warnanya pun khas; merah dengan ukuran yang tidak
terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil.
Bercak-bercak merah ini dalam bahasa kedokterannya disebut makulopapuler.
Biasanya bercak memenuhi seluruh tubuh dalam waktu sekitar satu minggu,
tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing anak. Umumnya jika bercak
merahnya sudah keluar, demam akan turun dengan sendirinya. Bercak merah pun
makin lama menjadi kehitaman dan bersisik (hiperpigmentasi), lalu rontok atau
sembuh dengan sendirinya. Periode ini merupakan masa penyembuhan yang butuh
waktu sampai 2 minggu.
Diagnosis
Bercak kemerahan terutama pada bagian atas badan.

Penatalaksanaan
Penanganan yang benar
– Bila campaknya ringan, anak cukup dirawat di rumah. Kalau campaknya berat
atau sampai terjadi komplikasi maka harus dirawat di rumah sakit.
– Anak campak perlu dirawat di tempat tersendiri agar tidak menularkan
penyakitnya kepada yang lain. Apalagi bila ada bayi di rumah yang belum
mendapat imunisasi campak.
– Beri penderita asupan makanan bergizi seimbang dan cukup untuk meningkatkan
daya tahan tubuhnya. Makanannya harus mudah dicerna karena anak campak
rentan terjangkit infeksi lain seperti radang tenggorokan, flu atau lainnya.
Masa rentan ini masih berlangsung sebulan setelah sembuh karena daya tahan
tubuh penderita yang masih lemah.
– Pengobatan secara simtomatik sesuai dengan gejala yang ada





OTITIS MEDIA AKUT (OMA)

3 11 2009

Definisi
Radang akut telinga tengah yang terjadi terutama pada bayi atau anak yang biasanya
didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas.
Penyebab
Kuman penyebab Otitis Media Akut adalah bakteri pirogenik seperti : Streptokokus
hemolitikus, Pneumokokus atau Hemofilus influenza.
Gambaran klinik
Keluhan dan gejala yang timbul tergantung dari stadium OMA yaitu :
1. Stadium oklusi tuba
2. Stadium hiperemis
3. Stadium supurasi
4. Stadium perforasi
5. Stadium resolusi
Gejala OMA adalah :
1. Anak gelisah atau ketika sedang tidur tiba-tiba terbangun, menjerit sambil
memegang telinganya.
2. Demam dengan suhu tubuh yang tinggi dan kadang-kadang sampai kejang.
3. Kadang-kadang disertai dengan muntah dan diare
Diagnosis
Tanda OMA adalah :
1. OMA Stadium oklusi tuba
Pemeriksaan otoskopik tampak membran timpani suram, refleks cahaya
memendek dan menghilang.
2. OMA Stadium hiperemis
Pemeriksaan otoskopik tampak membran timpani hiperemis dan udem serta
refleks cahaya menghilang.
3. OMA Stadium supurasi
Keluhan dan gejala klinik bertambah hebat.
Pemeriksaan otoskopik tampak membran timpani menonjol keluar (bulging)
dan ada bagian yang berwarna pucat kekuningan.

4. OMA Stadium perforasi
Anak yang sebelumnya gelisah menjadi lebih tenang, demam berkurang. Pada
pemeriksaan otoskopik tampak cairan di liang telinga yang berasal dari telinga
tengah. Membran timpani perforasi.
5. Stadium resolusi
Pemeriksaan otoskopik, tidak ada sekret/ kering dan membran timpani berangsur
menutup.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan OMA disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan stadiumnya.
1. Stadium oklusi tuba
a. Berikan antibiotik selama 7 hari:
§ Ampisilin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 25 mg/KgBB 4 x
sehari atau
§ Amoksisilin: Dewasa 500 mg 3 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 3 x sehari
atau
§ Eritromisin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 4 x
sehari
b. Obat tetes hidung nasal dekongestan
c. Antihistamin bila ada tanda-tanda alergi
d. Antipiretik
2. Stadium hiperemis
a. Berikan antibiotik selama 10 – 14 hari :
§ Ampisilin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 25 mg/KgBB 4 x
sehari atau
§ Amoksisilin: Dewasa 500 mg 3 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 3 x sehari
atau
§ Eritromisin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 4 x
sehari
b. Obat tetes hidung nasal dekongestan maksimal 5 hari
c. Antihistamin bila ada tanda-tanda alergi
d. Antipiretik, analgetik dan pengobatan simtomatis lainnya

3. Stadium supurasi
a. Segera rawat apabila ada fasilitas perawatan.
Berikan antibiotika ampisilin atau amoksisilin dosis tinggi parenteral
selama 3 hari. Apabila ada perbaikan dilanjutkan dengan pemberian
antibiotik peroral selama 14 hari.
b. Bila tidak ada fasilitas perawatan segera rujuk ke dokter spesialis THT
untuk dilakukan miringotomi.
4. Stadium perforasi
a. Berikan antibiotik selama 14 hari
b. Cairan telinga dibersihkan dengan obat cuci telinga Solutio H2O2 3%
dengan frekuensi 2 – 3 kali





OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK (OMSK)

3 11 2009

Definisi
Istilah sehari-hari untuk OMSK dikenal sebagai congek. Dalam perjalanan penyakit
ini dapat berasal dari OMA stadium perforasi yang berlanjut, sekret tetap keluar
dari telinga tengah dalam bentuk encer, bening ataupun mukopurulen. Proses
hilang timbul atau terus menerus lebih dari 2 minggu berturut-turut. Tetap terjadi
perforasi pada membran timpani.
Beberapa faktor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK adalah :
a. pengobatan terlambat diberikan dan tidak adekuat
b. virulensi kuman tinggi
c. daya tahan tubuh/ gizi/ hygiene kurang
OMSK dibagi menjadi 2 tipe :
a. OMSK tipe benigna/ mukosa/ aman
b. OMSK tipe maligna/ tulang/ bahaya
Otitis Media sendiri adalah suatu infeksi yang mengenai telinga bagian tengah
(lihat gambar penampang telinga). Infeksi ini disertai dengan pengeluaran cairan
(dapat bening atau keruh) dari liang telinga sehingga disebut supuratif.
Istilah kronik digunakan apabila penyakit ini hilang timbul atau menetap selama
2 bulan atau lebih.
Apabila terjadi kekambuhan setelah sebelumnya terjadi penyembuhan maka disebut
mengalami eksaserbasi akut (Acute exacerbation).
Pada pemeriksaan telinga didapatkan adanya gendang telinga yang keruh atau
robek. Kelainan ini dapat terjadi pada 1 telinga atau dapat mengenai 2 telinga.
Penyebab
Kuman penyebab OMSK antara lain kuman Staphylococcus aureus (26%),
Pseudomonas aeruginosa (19,3%), Streptococcus epidermidis (10,3%), gram
positif lain (18,1%) dan kuman gram negatif lain (7,8%).
Gambaran klinik
Biasanya pasien mendapat infeksi telinga ini setelah menderita infeksi saluran
napas atas misalnya influenza atau sakit tenggorokan. Melalui saluran yang
menghubungkan antara hidung dan telinga (tuba Auditorius), infeksi di saluran

napas atas yang tidak diobati dengan baik dapat menjalar sampai mengenai telinga.
Diagnosis
1. OMSK tipe benigna / aman
Proses peradangan hanya terbatas pada mukosa. Perforasi membran timpani
terletak di sentral, jarang menimbulkan komplikasi berbahaya.
2. OMSK tipe maligna / bahaya
Proses peradangan mengenai tulang, perforasi membran timpani terletak di
attic atau marginal dan tampak kolesteatoma.
Tanda klinis lainnya :
– terlihat adanya abses / fistula retroaurikuler, polip atau jaringan granulasi
di liang telinga yang berasal dari telinga tengah.
– Terdapat sekret purulen berbau busuk yang khas
OMSK tipe bahaya dapat mengakibatkan terjadinya komplikasi
intrakranial.
Penatalaksanaan
a. OMSK tipe benigna / aman
1. Bila aktif, berikan cuci telinga berupa solutio H2O2 3 %, 2-3 kali
2. Antibiotika selama 7 hari :
– Ampisilin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 25 mg/ KgBB 4 x
sehari atau
– Amoksilin : Dewasa 500 mg 3 x sehari; Anak 10 mg/ KgBB 3 x
sehari atau
– Eritromisin : Dewasa 500 mg 4 x sehari
3. Antihistamin apabila ada tanda-tanda alergi
4. Nasehatkan agar tidak berenang dan tidak mengorek telinga
5. Bila selama 2 bulan tidak kering atau hilang timbul, rujuk ke dokter
spesialis THT.
b. OMSK tipe maligna / bahaya
1. Apabila belum memungkinkan dirujuk ke spesialis THT, dilakukan terapi
sbb :
– Berikan cuci telinga berupa Solutio H2O2 3%, 2-3 kali

- Antibiotik selama 14 hari :
§ Ampisilin : Dewasa 500 mg 4 x sehari;
Anak 25 mg/KgBB 4 x sehari atau
§ Amoksilin : Dewasa 500 mg 3 x sehari;
Anak 10 mg/KgBB 3 x sehari atau
§ Eritromisin : Dewasa 500 mg 4 x sehari;
Anak 10 mg/KgBB 4 x sehari
2. Apabila terdapat abses retroaurikuler dilalukan insisi dahulu dan segera
rujuk ke dokter spesialis THT





PAROTITIS EPIDEMIKA

3 11 2009

Gondongan (Parotitis Epidemika) adalah penyakit infeksi akut dan menular yang
disebabkan virus. Virus menyerang kelenjar air liur di mulut, terutama kelenjar
parotis yang terletak pada tiap-tiap sisi muka tepat di bawah dan di depan telinga.
Penyebab
Virus Mumps.
Gambaran Klinis
a. Penyakit ini paling sering terjadi pada anak-anak dan orang muda berusia lima
sampai 15 tahun. Gejalanya, nyeri sewaktu mengunyah dan menelan. Lebih
terasa lagi bila menelan cairan asam seperti cuka dan air jeruk.
b. Pembengkakan yang nyeri terjadi pada sisi muka dan di bawah telinga. Kelenjarkelenjar
di bawah dagu juga akan lebih besar dan membengkak. Penderita
juga merasa demam. Suhu tubuh dapat meningkat hingga 39,5oC. Komplikasi
mungkin terjadi pada anak laki-laki pada umur belasan tahun, nyeri pada perut
dan alat kelamin. Pada penderita remaja perempuan, nyeri akan terasa juga di
bagian payudara. Komplikasi serius terjadi jika virus gondong menyerang otak
dan susunan syarat. Ini menyebabkan radang selaput otak dan jaringan selaput
otak.
c. Penularan penyakit ini melalui kontak langsung dengan penderita, seperti
persentuhan dengan cairan muntah dan air seni penderita atau melalui udara
ketika penderita bersin atau batuk.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik.
Penatalaksanaan
a. Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan secara aktif dengan pemberian vaksin
parotitis atau secara pasif dengan penyuntikan zat kekebalan yaitu gama
globulin.
b. Istirahat di tempat tidur hingga suhu tubuh normal kembali. Makanan yang
dikonsumsi adalah yang cair dan lunak. Bila perlu beri obat penurun panas
dan kompres pada bagian tubuh yang nyeri. Pakailah obat kumur yang baik
untuk membersihkan selaput lendir mulut. Usahakanlah minum yang
banyak dan mengunyah permen karet








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.