ASMA BRONKIALE

4 11 2009

Definisi
Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami penyempitan karena
hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan dan
penyempitan yang bersifat sementara.
Penyebab
Menurut The Lung Association, ada dua faktor yang menjadi pencetus asma :
1. Pemicu (trigger) yang mengakibatkan terganggunya saluran pernafasan dan
mengakibatkan mengencang atau menyempitnya saluran pernafasan
(bronkokonstriksi) tetapi tidak menyebabkan peradangan, seperti :
– Perubahan cuaca dan suhu udara.
– Rangsang sesuatu yang bersifat alergen, misalnya asap rokok, serbuk sari,
debu, bulu binatang, asap, udara dingin dan olahraga, insektisida, debu,
polusi udara dan hewan piaraan.
– Infeksi saluran pernafasan.
– Gangguan emosi.
– Kerja fisik atau Olahraga yang berlebihan.
2. Penyebab (inducer) yaitu sel mast di sepanjang bronki melepaskan bahan
seperti histamin dan leukotrien sebagai respon terhadap benda asing (alergen),
seperti serbuk sari, debu halus yang terdapat di dalam rumah atau bulu binatang,
yang menyebabkan terjadinya:
– kontraksi otot polos
– peningkatan pembentukan lendir
– perpindahan sel darah putih tertentu ke bronki.
yang mengakibatkan peradangan (inflammation) pada saluran pernafasan
dimana hal ini akan memperkecil diameter dari saluran udara (disebut
bronkokonstriksi) dan penyempitan ini menyebabkan penderita harus
berusaha sekuat tenaga supaya dapat bernafas.
Gambaran Klinis
– Sesak napas pada asma khas disertai suara mengi akibat kesulitan ekspirasi.
– Pada auskultasi terdengar wheezing dan ekspirasi memanjang.

- Keadaan sesak hebat yang ditandai dengan giatnya otot-otot bantu
pernapasan dan sianosis dikenal dengan status asmatikus yang dapat
berakibat fatal.
– Dispnoe di pagi hari dan sepanjang malam, sesudah latihan fisik (terutama
saat cuaca dingin), berhubungan dengan infeksi saluran nafas atas,
berhubungan dengan paparan terhadap alergen seperti pollen dan bulu
binatang.
– Batuk yang panjang di pagi hari dan larut malam, berhubungan dengan
faktor iritatif, batuknya bisa kering, tapi sering terdapat mukus bening yang
diekskresikan dari saluran nafas.
Diagnosis
Diagnosis asma kadang-kadang dapat ditegakkan atas dasar anamnesis dan
auskultasi. Wheezing di akhir ekspirasi hampir selalu merupakan tanda penyakit
paru obstruktif seperti asma. Pada asma ringan, auskultasi hampir selalu normal
bila pasiennya asimtomatik.
Penatalaksanaan
– Faktor pencetus serangan sedapat mungkin dihilangkan.
– Pada serangan ringan dapat diberikan suntikan adrenalin 1 : 1000 0,2 – 0,3
ml subkutan yang dapat diulangi beberapa kali dengan interval 10 – 15
menit. Dosis anak 0,01 mg/kgBB yang dapat diulang dengan
memperhatikan tekanan darah, nadi dan fungsi respirasi.
– Bronkodilator terpilih adalah teofilin 100 – 150 mg 3 x sehari pada orang
dewasa dan 10 – 15 mg / kgBB sehari untuk anak.
– Pilihan lain : Salbutamol 2 – 4 mg 3 x sehari untuk dewasa
– Efedrin 10 – 15 mg 3 x sehari dapat dipakai untuk menambah khasiat
theofilin.
– Prednison hanya dibutuhkan bila obat-obat diatas tidak menolong dan
diberikan beberapa hari saja untuk mencegah status asmatikus. Namun
pemberiannya tidak boleh terlambat.
– Penderita status asmatikus memerlukan oksigen, terapi parenteral dan
perawatan intensif sehingga harus dirujuk dengan tindakan awal sebagai
berikut :
· Penderita diinfus glukosa 5%
Aminofilin 5 – 6 mg/kgBB disuntikkan i.v perlahan bila penderita belum
memperoleh teofilin oral.

· Prednison 10 – 20 mg 2 x sehari untuk beberapa hari, kemudian
diturunkan dosisnya sehingga secepat mungkin dapat dihentikan.
· Bila belum dicoba diatasi dengan adrenalin, maka dapat digunakan
dulu adrenalin.





BATU SALURAN KEMIH

4 11 2009

Definisi
Batu di dalam saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras seperti batu
yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan,
penyumbatan aliran kemih atau infeksi.
Penyebab
Banyak faktor yang berpengaruh untuk timbulnya batu dalam saluran kemih,
seperti kurang minum, gangguan metabolisme.
Gambaran klinis
– Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung
kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis
(litiasis renalis, nefrolitiasis).
– Batu, terutama yang kecil, bisa tidak menimbulkan gejala. Batu di saluran
kemih sebelah atas menimbulkan kolik, sedangkan yang di bawah menghambat
buang air kecil.
– Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis bisa
menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat di
daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut juga
daerah kemaluan dan paha sebelah dalam).
– Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung, demam,
menggigil dan darah di dalam urin. Penderita mungkin menjadi sering buang
air kecil, terutama ketika batu melewati ureter.
– Urin sering merah seperti air cucian daging dan pemeriksaan mikroskopis
memperlihatkan banyak eritrosit dan kadang ada leukosit.
– Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran
kemih, bakteri akan terperangkap di dalam urin yang terkumpul diatas
penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi.
– Jika penyumbatan ini berlangsung lama, urin akan mengalir balik ke
saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan
menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi
kerusakan ginjal.

Diagnosis
· Batu yang tidak menimbulkan gejala, mungkin akan diketahui secara tidak
sengaja pada pemeriksaan analisa urin rutin (urinalisis).
· Batu yang menyebabkan nyeri biasanya didiagnosis berdasarkan gejala kolik
renalis, disertai dengan adanya nyeri tekan di punggung dan selangkangan
atau nyeri di daerah kemaluan tanpa penyebab yang jelas.
· Analisa urin mikroskopik bisa menunjukkan adanya darah, nanah atau kristal
batu yang kecil. Biasanya tidak perlu dilakukan pemeriksaan lainnya, kecuali
jika nyeri menetap lebih dari beberapa jam atau diagnosisnya belum pasti.
· Pemeriksaan tambahan yang bisa membantu menegakkan diagnosis adalah
pengumpulan urin 24 jam dan pengambilan contoh darah untuk menilai
kadar kalsium, sistin, asam urat dan bahan lainnya yang bisa menyebabkan
terjadinya batu.
Penatalaksanaan
· Kolik diatasi dengan injeksi spasmolitik : atropin 0.5 – 1 mg i.m untuk dewasa.
· Bila terdapat infeksi perlu diberikan antibiotik : kotrimoksazol 2 x 2 tablet
atau amoksisilin 500 mg peroral 3 x sehari untuk dewasa. Atau golongan lain
yang bisa dipakai.
· Batu kecil yang tidak menyebabkan gejala penyumbatan atau infeksi, biasanya
tidak perlu diobati.
· Minum banyak cairan akan meningkatkan pembentukan urin dan membantu
membuang beberapa batu. Jika batu telah terbuang, maka tidak perlu lagi
dilakukan pengobatan segera.
· Batu di dalam pelvis renalis atau bagian ureter paling atas yang berukuran 1
sentimeter atau kurang seringkali bisa dipecahkan oleh gelombang ultrasonik
(Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy, ESWL). Pecahan batu selanjutnya
akan dibuang dalam urin.
· Segera rujuk ke rumah sakit jika terdapat indikasi operasi seperti :
o Batu > 5 mm
o Obstruksi sedang / berat
o Batu di saluran kemih proksimal
o Infeksi berulang
o Selama pengamatan batu tidak dapat turun





BRONKITIS AKUT

4 11 2009

Definisi Bronkitis adalah suatu peradangan pada bronkus (saluran udara ke paru-paru). Bronkitis akut sebenarnya merupakan bronko pneumonia yang lebih ringan. Penyebab Penyebabnya dapat virus, mikoplasma atau bakteri. Gambaran klinis · Batuk berdahak (dahaknya bisa berwarna kemerahan), sesak nafas ketika melakukan olah raga atau aktivitas ringan, sering menderita infeksi pernafasan (misalnya flu), bengek, lelah, pembengkakan pergelangan kaki, kaki dan tungkai kiri dan kanan, wajah, telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna kemerahan, pipi tampak kemerahan, sakit kepala, gangguan penglihatan. · Bronkitis infeksiosa seringkali dimulai dengan gejala seperti pilek, yaitu hidung berlendir, lelah, menggigil, sakit punggung, sakit otot, demam ringan dan nyeri tenggorokan. · Batuk biasanya merupakan tanda dimulainya bronkitis. Pada awalnya batuk tidak berdahak, tetapi 1 – 2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau kuning. Selanjutnya dahak akan bertambah banyak, berwarna kuning atau hijau. · Pada bronkitis berat, setelah sebagian besar gejala lainnya membaik, kadang terjadi demam tinggi selama 3 – 5 hari dan batuk bisa menetap selama beberapa minggu. · sesak nafas terjadi jika saluran udara tersumbat. · Sering ditemukan bunyi nafas mengi, terutama setelah batuk. · Bisa terjadi pneumonia. Diagnosis · Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan gejala, terutama dari adanya lendir. · Pada pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop akan terdengar bunyi ronki atau bunyi pernafasan yang abnormal. Penatalaksanaan · Untuk mengurangi demam dan rasa tidak enak badan, kepada penderita dewasa bisa diberikan asetosal atau parasetamol; kepada anak-anak sebaiknya hanya diberikan parasetamol. · Dianjurkan untuk beristirahat dan minum banyak cairan, serta menghentikan kebiasaan merokok. · Antibiotik diberikan kepada penderita yang gejalanya menunjukkan bahwa penyebabnya adalah infeksi bakteri (dahaknya berwarna kuning atau hijau dan demamnya tetap tinggi) dan penderita yang sebelumnya memiliki penyakit paru-paru. · Kepada penderita dewasa diberikan Kotrimoksazol. Tetrasiklin 250 – 500 mg 4 x sehari. Eritromisin 250 – 500 mg 4 x sehari diberikan selama 7 – 10 hari. Dosis untuk anak : eritromisin 40 – 50 mg/kgBB/hari. walaupun dicurigai penyebabnya adalah Mycoplasma pneumoniae. · Kepada penderita anak-anak diberikan amoxicillin. · Bila ada tanda obstruksi pada pasien segera rujuk





CACINGAN

4 11 2009

Manusia merupakan hospes defenitif beberapa nematoda usus (cacing perut),
yang dapat mengakibatkan masalah bagi kesehatan masyarakat. Diantara cacing
perut terdapat sejumlah spesies yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted
helminths). Diantara cacing tersebut yang terpenting adalah cacing gelang
(Ascaris vermicularis), cacing tambang (Ankylostoma Duodenale, Necator
americanus), dan cacing cambuk (Trichuris Trichuria). Jenis-jenis cacing
tersebut banyak ditemukan di daerah tropis seperti Indonesia. Pada umumnya
telur cacing bertahan pada tanah yang lembab, tumbuh menjadi telur yang
infektif dan siap untuk masuk ke tubuh manusia yang merupakan hospes
defenitifnya.
1. ANKILOSTOMIASIS (Infeksi Cacing Tambang)
Kompetensi :
Laporan Penyakit : ICD X :
Definisi
Infeksi cacing tambang adalah penyakit yang disebabkan cacing Ancylostoma
duodenale dan / atau Necator americanus. Cacing tambang mengisap darah
sehingga menimbulkan keluhan yang berhubungan dengan anemia, gangguan
pertumbuhan terutama pada anak dan dapat menyebabkan retardasi mental.
Penyebab
Ancylostoma duodenale dan/atau Necator americanus.
Gambaran klinis
– Masa inkubasi antara beberapa minggu sampai beberapa bulan tergantung
dari beratnya infeksi dan keadaan gizi penderita.
– Pada saat larva menembus kulit, penderita dapat mengalami dermatitis.
Ketika larva lewat di paru dapat terjadi batuk-batuk
– Akibat utama yang disebabkan cacing ini ialah anemia yang kadang demikian
berat sampai menyebabkan gagal jantung.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja segar atau biakan tinja
dengan cara Harada-Mori.
Penatalaksanaan
– Pirantel pamoat 10 mg/kg BB per hari selama 3 hari.
– Mebendazol 500 mg dosis tunggal (sekali saja) atau 100 mg 2 x sehari selama
tiga hari berturut-turut
– Albendazol 400 mg dosis tunggal (sekali saja), tetapi tidak boleh digunakan
selama hamil.
– Sulfas ferosus 3 x 1 tablet untuk orang dewasa atau 10 mg/kg BB/kali (untuk
anak) untuk mengatasi anemia.
Pencegahan
Pencegahan penyakit ini meliputi sanitasi lingkungan dan perbaikan higiene
perorangan terutama penggunaan alas kaki.
2. ASKARIASIS (Infeksi Cacing Gelang)
Kompetensi :
Laporan Penyakit : ICD X :
Definisi
Askariasis atau infeksi cacing gelang adalah penyakit ik yang disebabkan oleh
Ascaris lumbricoides. Askariasis adalah penyakit kedua terbanyak yang disebabkan
oleh parasit.
Penyebab
Ascaris lumbricoides.
Gambaran klinis
– Infeksi cacing gelang di usus besar gejalanya tidak jelas. Pada infeksi masif
dapat terjadi gangguan saluran cerna yang serius antara lain obstruksi total
saluran cerna. Cacing gelang dapat bermigrasi ke organ tubuh lainnya misalnya
saluran empedu dan menyumbat lumen sehingga berakibat fatal.
– Telur cacing menetas di usus menjadi larva yang kemudian menembus dinding
usus, masuk ke aliran darah lalu ke paru dan menimbulkan gejala seperti batuk,
bersin, demam, eosinofilia, dan pneumonitis askaris. Larva menjadi cacing
dewasa di usus dalam waktu 2 bulan.

- Cacing dewasa di usus akan menyebabkan gejala khas saluran cerna seperti
tidak napsu makan, mual, muntah, , dan .
– Bila cacing masuk ke saluran maka dapat menyebabkan dan . Bila menembus
dapat menyebabkan .
– Pada infeksi berat, terutama pada anak dapat terjadi malabsorbsi sehingga
memperberat keadaan malnutrisi. Sering kali infeksi ini baru diketahui setelah
cacing keluar spontan bersama tinja atau dimuntahkan.
– Bila cacing dalam jumlah besar menggumpal dalam usus dapat terjadi obstruksi
usus (ileus), yang merupakan kedaruratan dan penderita perlu dirujuk ke rumah
sakit.
Diagnosis
Diagnosis askariasis ditegakkan dengan menemukan Ascaris dewasa atau telur
Ascaris pada pemeriksaan tinja.
Penatalaksanaan
– Pirantel pamoat 10 mg/kgBB dosis tunggal
– Mebendazol 500 mg dosis tunggal (sekali saja) atau 100 mg 2 x sehari selama
tiga hari berturut-turut
– Albendazol 400 mg dosis tunggal (sekali saja), tetapi tidak boleh digunakan
selama hamil.
Pencegahan
1. Pengobatan masal 6 bulan sekali di daerah endemik atau di daerah yang rawan
askariasis.
2. Penyuluhan kesehatan tentang sanitasi yang baik, hygiene keluarga dan hygiene
pribadi seperti:
– Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman.
– Sebelum melakukan persiapan makanan dan hendak makan, tangan dicuci
terlebih dahulu dengan menggunakan sabun.
– Sayuran segar (mentah) yang akan dimakan sebagai lalapan, harus dicuci
bersih dan disiram lagi dengan air hangat karena telur cacing Ascaris dapat
hidup dalam tanah selama bertahun-tahun.
– Buang air besar di jamban, tidak di kali atau di kebun.
Bila pasien menderita beberapa spesies cacing, askariasis harus diterapi lebih
dahulu dengan pirantel pamoat.

3. FILARIASIS
Kompetensi : 4
Laporan Penyakit : 0702 ICD X :B.74
Definisi
Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular kronik yang disebabkan
sumbatan cacing filaria di kelenjar / saluran getah bening, menimbulkan gejala
klinis akut berupa demam berulang, radang kelenjar / saluran getah bening, edema
dan gejala kronik berupa elefantiasis.
Penyebab
Di Indonesia ditemukan 3 spesies cacing filaria, yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia
malayi dan Brugia timori yang masing-masing sebagai penyebab filariasis bancrofti,
filariasis malayi dan filariasis timori. Beragam spesies nyamuk dapat berperan
sebagai penular (vektor) penyakit tersebut.
Cara Penularan
Seseorang tertular filariasis bila digigit nyamuk yang mengandung larva infektif
cacing filaria. Nyamuk yang menularkan filariasis adalah Anopheles, Culex,
Mansonia, Aedes dan Armigeres. Nyamuk tersebut tersebar luas di seluruh Indonesia
sesuai dengan keadaan lingkungan habitatnya (got/saluran air, sawah, rawa, hutan).
Gambaran klinik
1. Filariasis tanpa Gejala
Umumnya di daerah endemik, pada pemeriksaan fisik hanya ditemukan
pembesaran kelenjar limfe terutama di daerah inguinal. Pada pemeriksaan
darah ditemukan mikrofilaria dalam jumlah besar dan eosinofilia.
2. Filariasis dengan Peradangan
Demam, menggigil, sakit kepala, muntah dan lemah yang dapat berlangsung
beberapa hari sampai beberapa minggu. Organ yang terkena terutama saluran
limfe tungkai dan alat kelamin. Pada laki-laki umumnya terdapat funikulitis
disertai penebalan dan rasa nyeri, epididimitis, orkitis dan pembengkakan
skrotum. Serangan akut dapat berlangsung satu bulan atau lebih. Bila keadaannya
berat dapat menyebabkan abses ginjal, pembengkakan epididimis, jaringan
retroperitoneal, kelenjar inguinal dan otot ileopsoas

3. Filariasis dengan Penyumbatan
Pada stadium menahun terjadi jaringan granulasi yang proliferatif serta pelebaran
saluran limfe yang luas lalu timbul elefantiasis. Penyumbatan duktus torasikus
atau saluran limfe perut bagian tengah mempengaruhi skrotum dan penis pada
laki-laki dan bagian luar alat kelamin pada perempuan. Infeksi kelenjar inguinal
dapat mempengaruhi tungkai dan bagian luar alat kelamin. Elefantiasis
umumnya mengenai tungkai serta alat kelamin dan menyebabkan perubahan
yang luas. Bila saluran limfe kandung kencing dan ginjal pecah akan timbul
kiluria (keluarnya cairan limfe dalam urin), sedangkan bila yang pecah tunika
vaginalis akan terjadi hidrokel atau kilokel, dan bila yang pecah saluran limfe
peritoneum terjadi asites yang mengandung kilus. Gambaran yang sering
tampak ialah hidrokel dan limfangitis alat kelamin. Limfangitis dan elefantiasis
dapat diperberat oleh infeksi sekunder Streptococcus.
Diagnosis
Diagnosis filariasis dapat ditegakkan secara klinis. Diagnosis dipastikan dengan
menemukan mikrofilaria dalam darah tepi yang diambil malam hari (pukul 22.00
– 02.00 dinihari) dan dipulas dengan pewarnaan Giemsa. Pada keadaan kronik
pemeriksaan ini sering negatif.
Penatalaksanaan
1. Perawatan Umum
– Istirahat di tempat tidur
– Antibiotik untuk infeksi sekunder dan abses
– Perawatan elefantiasis dengan mencuci kaki dan merawat luka.
2. Pengobatan Spesifik
Untuk pengobatan individual diberikan Diethyl Carbamazine Citrate (DEC)
6 mg/kgBB 3 x sehari selama 12 hari.
Efek samping : pusing, mual dan demam selama menggunakan obat ini.
Pengobatan masal (rekomendasi WHO) adalah DEC 6 mg/kgBB dan albendazol
400mg (+ parasetamol) dosis tunggal, sekali setahun selama 5 tahun.
Implementation unit (IU) adalah kecamatan / wilayah kerja puskesmas (jumlah
penduduk 8.000 – 10.000 orang).

Tabel 1. Dosis DEC untuk filariasis berdasarkan umur
Umur DEC (100 mg) Albendazol (400 mg)
2 – 6 tahun
7 – 12 tahun
> 13 tahun
1 tablet
2 tablet
3 tablet
1 tablet
1 tablet
1 tablet
4. OKSIURIASIS
Kompetensi :
Laporan Penyakit : ICD X :
Definisi
Infeksi cacing kremi (oksiuriasis, enterobiasis) adalah infeksi parasit yang disebabkan
Enterobius vermicularis. Parasit ini terutama menyerang anak-anak; cacing tumbuh
dan berkembang biak di dalam usus.
Penyebab
Enterobius vermicularis.
Gambaran klinis
– Rasa gatal hebat di sekitar anus, kulit di sekitar anus menjadi lecet atau kasar
atau terjadi infeksi (akibat penggarukan).
– Rewel (karena rasa gatal).
– Kurang tidur (biasanya karena rasa gatal yang timbul pada malam hari ketika
cacing betina bergerak ke daerah anus dan meletakkan telurnya disana).
– Napsu makan berkurang, berat badan menurun (jarang, tetapi dapat terjadi
pada infeksi berat) rasa gatal atau iritasi vagina (pada anak perempuan, jika
cacing masuk ke dalam vagina)
Diagnosis
Cacing kremi dapat dilihat dengan mata telanjang pada anus penderita, terutama
dalam waktu 1 – 2 jam setelah anak tertidur pada malam hari. Cacing kremi aktif
bergerak, berwarna putih dan setipis rambut. Telur maupun cacingnya bisa didapat
dengan menempelkan selotip di lipatan kulit di sekitar anus, pada pagi

hari sebelum anak terbangun. Kemudian selotip tersebut ditempelkan pada kaca
objek dan diperiksa dengan mikroskop
Penatalakasanaan
– pirantel pamoat 10 mg/kgBB dosis tunggal diulang 2 minggu kemudian
– mebendazol 100 mg dosis tunggal diulang 2 minggu kemudian
– albendazol 400 mg dosis tunggal diulang 2 minggu kemudian
Penyuluhan
Seluruh anggota keluarga dalam satu rumah harus minum obat tersebut karena
infeksi dapat menyebar dari satu orang kepada yang lainnya.
Pencegahan
– Mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar
– Memotong kuku dan menjaga kebersihan kuku
– Mencuci seprei minimal 2 kali/minggu
– Membersihkan jamban setiap hari
– Menghindari penggarukan daerah anus karena mencemari jari-jari tangan dan
setiap benda yang dipegang/disentuhnya
5. SISTOSOMIASIS
Kompetensi :
Laporan Penyakit : ICD X :
Definisi
Sistomiasis merupakan penyakit parasit (cacing) menahun yang hidup di dalam
pembuluh darah vena, sistem peredaran darah hati, yaitu pada sistem vena porta,
mesenterika superior. Dalam siklus hidupnya cacing ini memerlukan hospes
perantara sejenis keong Oncomelania hupensis lindoensis yang bersifat amfibi.
Penyebab
Cacing trematoda. Penyakit ini ditularkan melalui bentuk infektif larvanya yang
disebut sekaria yang sewaktu-waktu keluar dari keong tersebut di atas. Larva ini
akan masuk ke dalam tubuh manusia melalui pori-pori kulit yang kontak dengan
air yang mengandung sekaria. Penyakit ini telah lama diketahui terdapat di
Indonesia, pertama kali dilaporkan pada tahun 1937 oleh Brug dan Tesch. Adapun
cacing penyebabnya adalah Scistosoma japonicum. Daerah endemis

sistosomiasis di Indonesia sampai saat ini terbatas pada daerah Lindu, Napu, dan
Besoa di Propinsi Sulawesi Tengah.
Gambaran Klinis
– Masa tunas 4 – 6 minggu.
– Penderita memperlihatkan gejala umum berupa demam, urtikaria, mual, muntah,
dan sakit perut. Kadang dijumpai sindrom disentri.
– Dermatitis sistosoma terjadi karena serkaria menembus ke dalam kulit.
– Pada tingkat lanjut telur yang terjebak dalam organ-organ menyebabkan
mikroabses yang meninggalkan fibrosis dalam penyembuhannya. Maka dapat
terjadi sirosis hepatitis, hepatosplenomegali, dan hipertensi portal yang dapat
fatal.
Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan bila ditemukan telur dalam tinja, atau biopsi rektum
atau hati. Uji serologi memastikan diagnosis
Penatalaksanaan
Obat terpilih untuk sistosomiasis adalah prazikuantel, dosis tunggal.

6. TAENIASIS / SISTISERKOSIS
Kompetensi :
Laporan Penyakit : ICD X :
Definisi
Taeniasis ialah penyakit zoonosis parasitik yang disebabkan cacing dewasa Taenia
(Taenia saginata, Taenia solium dan Taenia asiatica). Infeksi larva T. solium
disebut sistiserkosis dengan gejala benjolan (nodul) di bawah kulit (subcutaneous
cysticercosis). Bila infeksi larva Taenia solium di susunan saraf pusat disebut
neurosistiserkosis dengan gejala utama epilepsi.
Penyebab
Cacing dewasa Taenia (Taenia saginata, Taenia solium dan Taenia asiatica);
larva T. Solium.
Penularan
Sumber penularan taeniasis adalah hewan terutama babi, sapi yang
mengandung larva cacing pita (cysticercus). Sumber penularan sistiserkosis
adalah penderita taeniasis solium sendiri yang tinjanya mengandung telur atau

proglotid cacing pita dan mencemari lingkungan. Seseorang dapat terinfeksi cacing
pita (taeniasis) bila makan daging yang mengandung larva yang tidak dimasak
dengan sempurna, baik larva T.saginata yang terdapat pada daging sapi (cysticercus
bovis) maupun larva T.solium (cysticercus cellulose) yang terdapat pada daging
babi atau larva T.asiatica yang terdapat pada hati babi. Sistiserkosis terjadi apabila
telur T.solium tertelan oleh manusia. Telur T. saginata dan T.asiatica tidak
menimbulkan sistiserkosis pada manusia.
Sistiserkosis merupakan penyakit yang berbahaya dan merupakan masalah kesehatan
masyarakat di daerah endemis. Hingga saat ini kasus taeniasis / sistiserkosis telah
banyak dilaporkan dan tersebar di beberapa propinsi di Indonesia, terutama di
propinsi Papua, Bali dan Sumatera Utara.
Gambaran Klinis
– Masa inkubasi berkisar antara 8 – 14 minggu.
– Sebagian kasus taeniasis tidak menunjukkan gejala (asimtomatik).
– Gejala klinis dapat timbul sebagai akibat iritasi mukosa usus atau toksin yang
dihasilkan cacing. Gejala tersebut antara lain rasa tidak nyaman di lambung,
mual, badan lemah, berat badan menurun, napsu makan menurun, sakit kepala,
konstipasi, pusing, diare dan pruritus ani.
– Pada sistiserkosis, biasanya larva cacing pita bersarang di jaringan otak sehingga
dapat mengakibatkan serangan epilepsi. Larva juga dapat bersarang di subkutan,
mata, otot, jantung dan lain-lain.
Diagnosis
Diagnosis taeniasis dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan tinja
secara mikroskopis.
1. Adanya riwayat mengeluarkan proglotid (segmen) cacing pita baik pada waktu
buang air besar maupun secara spontan.
2. Pada pemeriksaan tinja ditemukan telur cacing Taenia.
Penatalaksanaan
Pasien taeniasis diobati dengan prazikuantel dengan dosis 5 – 10 mg/kg BB
dosis tunggal. Cara pemberian prazikuantel adalah sebagai berikut :
– Satu hari sebelum pemberian prazikuantel, penderita dianjurkan untuk makan
makanan yang lunak tanpa minyak dan serat.
– Malam harinya setelah makan malam penderita menjalani puasa.
– Keesokan harinya dalam keadaan perut kosong penderita diberi prazikuantel.

- Dua sampai dua setengah jam kemudian diberikan garam Inggris (MgSO4),
30 gram untuk dewasa dan 15 gram atau 7,5 gram untuk anak anak, sesuai
dengan umur yang dilarutkan dalam sirop (pemberian sekaligus).
– Penderita tidak boleh makan sampai buang air besar yang pertama. Setelah
buang air besar penderita diberi makan bubur.
– Sebagian kecil tinja dari buang air besar pertama dikumpulkan dalam botol
yang berisi formalin 5 – 10% untuk pemeriksaan telur Taenia sp. Tinja dari
buang air besar pertama dan berikutnya selama 24 jam ditampung dalam
baskom lalu disiram dengan air panas / mendidih, kemudian diayak dan
disaring untuk mendapatkan proglotid dan skoleks Taenia sp. Jika terdapat
cacing dewasa, cacing menjadi relaks dengan pemberian air panas.
– Proglotid dan skoleks dikumpulkan dan disimpan dalam botol yang berisi
alkohol 70% untuk pemeriksaan morfologi yang sangat penting dalam
identifikasi spesies cacing pita tersebut.
Pasien neurosistiserkosis sebaiknya dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan
lebih lanjut.
Pencegahan
– Menjaga kebersihan lingkungan dan pribadi.
– Mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar
– Tidak makan daging mentah atau setengah matang
– Buang air besar di jamban
– Memelihara ternak di kandang

7. TRIKURIASIS
Kompetensi :
Laporan Penyakit : ICD X :
Definisi
Trikuriasis atau Infeksi cacing cambuk adalah penyakit yang disebabkan oleh
cacing Trichuris trichiura.
Penyebab
Trichuris trichiura

Gambaran Klinis
– Infeksi ringan biasanya tidak memberikan gejala klinis.
– Infeksi berat terutama pada anak memberikan gejala diare yang sering diselingi
dengan sindrom disentri. Gejala lainnya adalah anemia, berat badan turun dan
kadang-kadang disertai prolapsus rekti.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur cacing di dalam tinja.
Penatalaksanaan
– Mebendazol 100 mg 2 x sehari selama tiga hari berturut-turut atau dosis tunggal
500 mg
– albendazol 400 mg 3 hari berturut-turut. Tidak boleh digunakan selama
kehamilan.
Pencegahan
Pencegahan trikuriasis sama dengan askariasis yaitu buang air besar di jamban,
mencuci dengan baik sayuran yang dimakan mentah (lalapan), pendidikan
tentang sanitasi dan kebersihan perorangan seperti mencuci tangan sebelum
makan.





DEMAM BERDARAH DENGUE

4 11 2009

Definisi
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang ditandai dengan:
(1) demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus
selama 2 – 7 hari;
(2) Manifestasi perdarahan (petekie, purpura, perdarahan konjungtiva, epistaksis,
ekimosis, perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis,
melena, hematuri) termasuk uji Tourniquet (Rumple Leede) positif;
(3) Trombositopeni (jumlah trombosit 100.000/•l);
(4) Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit • 20%);
(5) Disertai dengan atau tanpa pembesaran hati (hepatomegali).
Penyebab
Virus dengue yang sampai sekarang dikenal 4 serotipe (Dengue-1, Dengue-2,
Dengue-3 dan Dengue-4), termasuk dalam group B Arthropod Borne Virus
(Arbovirus). Ke-empat serotipe virus ini telah ditemukan di berbagai daerah di
Indonesia. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa Dengue-3 sangat
berkaitan dengan kasus DBD berat dan merupakan serotipe yang paling luas
distribusinya disusul oleh Dengue-2, Dengue-1 dan Dengue-4.
Cara Penularan
Penularan DBD umumnya melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti meskipun dapat
juga ditularkan oleh Aedes albopictus yang biasanya hidup di kebun-kebun.
Nyamuk penular DBD ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali
di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut.
Gambaran Klinis
a. Masa inkubasi biasanya berkisar antara 4 – 7 hari
b. Demam
Penyakit ini didahului oleh demam tinggi yang mendadak, terus menerus
berlangsung 2 – 7 hari. Panas dapat turun pada hari ke-3 yang kemudian naik
lagi, dan pada hari ke-6 atau ke-7 panas mendadak turun

c. Tanda-tanda perdarahan
Perdarahan ini terjadi di semua organ. Bentuk perdarahan dapat hanya berupa
uji Tourniquet (Rumple Leede) positif atau dalam bentuk satu atau lebih
manifestasi perdarahan sebagai berikut: Petekie, Purpura, Ekimosis, Perdarahan
konjungtiva, Epistaksis, Pendarahan gusi, Hematemesis, Melena dan Hematuri.
Petekie sering sulit dibedakan dengan bekas gigitan nyamuk. Untuk
membedakannya regangkan kulit, jika hilang maka bukan petekie. Uji Tourniquet
positif sebagai tanda perdarahan ringan, dapat dinilai sebagai presumptif test
(dugaan keras) oleh karena uji Tourniquet positif pada hari-hari pertama demam
terdapat pada sebagian besar penderita DBD. Namun uji Tourniquet positif
dapat juga dijumpai pada penyakit virus lain (campak, demam chikungunya),
infeksi bakteri (Typhus abdominalis) dan lain-lain. Uji Tourniquet dinyatakan
positif, jika terdapat 10 atau lebih petekie pada seluas 1 inci persegi (2,5 x
2,5 cm) di lengan bawah bagian depan (volar) dekat lipat siku (fossa cubiti).
d. Pembesaran hati (hepatomegali)
Sifat pembesaran hati:
– Pembesaran hati pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan
penyakit
– Pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit
– Nyeri tekan sering ditemukan tanpa disertai ikterus.
e. Renjatan (syok)
Tanda-tanda renjatan:
– Kulit teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari tangan
dan kaki
– Penderita menjadi gelisah
– Sianosis di sekitar mulut
– Nadi cepat, lemah, kecil sampai tak teraba
– Tekanan nadi menurun, sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang.
Sebab renjatan: Karena perdarahan, atau karena kebocoran plasma ke daerah
ekstra vaskuler melalui kapiler yang terganggu.
f. Trombositopeni
– Jumlah trombosit 100.000/•l biasanya ditemukan diantara hari ke
3 – 7 sakit
– Pemeriksaan trombosit perlu diulang sampai terbukti bahwa jumlah
trombosit dalam batas normal atau menurun.
– Pemeriksaan dilakukan pada saat pasien diduga menderita DBD, bila
normal maka diulang tiap`hari sampai suhu turun.

g. Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit)
Peningkatnya nilai hematokrit (Ht) menggambarakan hemokonsentrasi selalu
dijumpai pada DBD, merupakan indikator yang peka terjadinya perembesan
plasma, sehingga dilakukan pemeriksaan hematokrit secara berkala. Pada
umumnya penurunan trombosit mendahului peningkatan hematokrit.
Hemokonsentrasi dengan peningkatan hematokrit • 20% (misalnya 35%
menjadi 42%: 35/100 x 42 = 7, 35+7=42), mencerminkan peningkatan
permeabilitas kapiler dan perembesan plasma. Perlu mendapat perhatian,
bahwa nilai hematokrit dipengaruhi oleh penggantian cairan atau perdarahan.
Penurunan nilai hematokrit • 20% setelah pemberian cairan yang adekuat,
nilai Ht diasumsikan sesuai nilai setelah pemberian cairan.
h. Gejala klinik lain
– Gejala klinik lain yang dapat menyertai penderita DBD ialah nyeri otot,
anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare atau konstipasi, dan
kejang
– Pada beberapa kasus terjadi hiperpireksia disertai kejang dan penurunan
kesadaran sehingga sering di diagnosis sebagai ensefalitis
– Keluhan sakit perut yang hebat sering kali timbul mendahului perdarahan
gastrointestinal dan renjatan
Diagnosis
1. Tersangka Demam Berdarah Dengue
Dinyatakan Tersangka Demam Berdarah Dengue apabila demam tinggi
mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari
disertai manifestasi perdarahan (sekurang-kurangnya uji Tourniquet
positif) dan/atau trombositopenia (jumlah trombosit 100.000/•l)
2. Penderita Demam Berdarah Dengue derajat 1 dan 2
Diagnosis demam berdarah dengue ditegakkan atau dinyatakan sebagai penderita
DBD apabila demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung
terus-menerus selama 2 – 7 hari disertai manifestasi perdarahan (sekurangkurangnya
uji Tourniquet positif), trombositopenia, dan hemokonsentrasi
(diagnosis klinis). atau hasil pemeriksaan serologis pada Tersangka DBD,
menunjukkan hasil positif pada pemeriksaan HI test atau terjadi peninggian
(positif) IgG saja atau IgM dan IgG pada pemeriksaan dengue rapid test
(diagnosis laboratoris)

Penatalaksanaan
1. Penatalaksana demam berdarah dengue (pada anak)
Pertama-tama ditentukan terlebih dahulu:
a. Adakah tanda kedaruratan, yaitu tanda syok (gelisah, nafas cepat, bibir
biru, tangan dan kaki dingin, kulit lembab), muntah terus-menerus, kejang,
kesadaran menurun, muntah darah, tinja darah, maka pasien perlu dirawat
/ dirujuk.
b. Apabila tidak dijumpai tanda kedaruratan, periksa uji Tourniquet dan
hitung trombosit.
1) Bila uji Tourniquet positif dan jumlah trombosit 100.000/•l,
penderita dirawat / dirujuk.
2) Bila uji Tourniquet negatif dengan trombosit > 100.000/•l atau
normal, pasien boleh pulang dengan pesan untuk datang kembali
setiap hari sampai suhu turun. Pasien dianjurkan minum banyak,
seperti: air teh, susu, sirup, oralit, jus buah dan lain-lain. Berikan obat
antipiretik golongan parasetamol jangan golongan salisilat. Apabila
selama di rumah demam tidak turun pada hari sakit ketiga, evaluasi
tanda klinis adakah tanda-tanda syok, yaitu anak menjadi gelisah,
ujung kaki / tangan dingin, sakit perut, tinja hitam, kencing berkurang;
bila perlu periksa Hb, Ht dan trombosit. Apabila terdapat tanda syok
atau terdapat peningkatan Ht dan / atau penurunan trombosit, segera
rujuk ke rumah sakit.
2. Penatalaksanaan demam berdarah dengue (pada dewasa)
Pasien yang dicurigai menderita DBD dengan hasil Hb, Ht dan trombosit
dalam batas nomal dapat dipulangkan dengan anjuran kembali kontrol dalam
waktu 24 jam berikutnya atau bila keadaan pasien memburuk agar segera
kembali ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya. Sedangkan pada kasus
yang meragukan indikasi rawatnya, maka untuk sementara pasien tetap
diobservasi dengan anjuran minum yang banyak, serta diberikan infus ringer
laktat sebanyak 500cc dalam 4 jam. Setelah itu dilakukan pemeriksaan ulang
Hb, Ht dan trombosit.
Pasien dirujuk ke rumah sakit apabila didapatkan hasil sebagai berikut.
a. Hb, Ht dalam batas normal dengan jumlah trombosit < 100.000/•l atau
b. Hb, Ht yang meningkat dengan jumlah trombosit < 150.000/•l

1. Penatalaksanaan penderita demam berdarah dengue dengan syok
(DSS)
a. Segera beri infus ringer laktat, atau NaCl 0,9%, 10 – 20 ml/kgBB
secepatnya (diberikan dalam bolus selama 30 menit) dan oksigen 2 – 4
liter/menit. Untuk DSS berat (DBD derajat IV, nadi tidak teraba dan tensi
tidak terukur) diberikan ringer laktat 20 ml/kgBB bersama koloid. Bila
syok mulai teratasi jumlah cairan dikurangi menjadi 10 ml/kgBB/jam.
b. Untuk pemantauan dan penanganan lebih lanjut, sebaiknya penderita
dirujuk ke rumah sakit terdekat





DERMATITIS ATOPIK

4 11 2009

Definisi
Dermatitis Atopik adalah peradangan kulit kronik dan residif yang sering terjadi
pada bayi dan anak, disertai gatal dan berhubungan dengan atopi.
Atopi adalah istilah yang dipakai untuk sekelompok penyakit pada individu yang
mempunyai riwayat kepekaan dalam keluarganya, misalnya : asma bronkiale,
rinitis alergi, dermatitis atopik dan konjungtivitis alergi.
Penyebab
Umumnya tidak diketahui
Gambaran klinik
– Pada wajah, kulit kepala, daerah yang tertutup popok, tangan, lengan, kaki
atau tungkai bayi terbentuk ruam berkeropeng yang berwarna merah dan berair.
– Dermatitis seringkali menghilang pada usia 3 – 4 tahun, meskipun biasanya
akan muncul kembali.
– Pada anak-anak dan dewasa, ruam seringkali muncul dan kambuh kembali
hanya pada 1 atau beberapa daerah, terutama lengan atas, sikut bagian depan
atau di belakang lutut.
– Warna, intensitas dan lokasi dari ruam bervariasi, tetapi selalu menimbulkan
gatal-gatal.
– Pada penderita dermatitis atopik, herpes simpleks yang biasanya hanya
menyerang daerah yang kecil dan ringan, bisa menyebabkan penyakit serius
berupa eksim dan demam tinggi (eksim herpetikum).
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala, hasil pemeriksaan fisik dan
riwayat penyakit alergi pada keluarga penderita

Penatalaksanaan
– Penjelasan / penyuluhan kepada orang tua pasien:
§ Penyakit bersifat kronik berulang dan penyembuhan sempurna jarang
terjadisehingga pengobatan ditujukan untuk mengurangi gatal dan
mengatasi kelainan kulit.
§ Selain obat perlu dilakukan usaha lain untuk mencegah kekambuhan :
o Jaga kebersihan, gunakan sabun lunak misalnya sabun bayi
o Pakaian sebaiknya tipis, ringan mudah menyerap keringat
o Udara dan lingkungan cukup berventilasi dan sejuk.
o Hindari faktor-faktor pencetus, misalnya: iritan, debu, dsb
– Sistemik
§ Antihistamin klasik sedatif misalnya klorfeniramin maleat untuk
mengurangi gatal
§ Bila terdapat infeksi sekunder dapat ditambahkan antibiotik sistemik
atau topikal
– Topikal
§ Bila lesi akut/eksudatif: kompres 2 – 3 x sehari, 1 – 2 jam dengan
larutan dengan rivanol 0,1% atau NaCl 0,9%
§ Krim kortikosteroid potensi sedang/rendah, 1 – 2 kali sehari sesudah
mandi, sesuai dengan keadaan lesi. Bila sudah membaik dapat diganti
dengan potensi yang lebih rendah.
Kortikosteroid potensi rendah : krim hidrokortison 1%, 2,5%
Kortikosteroid potensi sedang : krim betametason 0,1%
§ Pada kulit kering dapat diberikan emolien / pelembab segera sesudah
mandi.





DERMATOMIKOSIS

4 11 2009

Definisi
Dermatomikosis merupakan penyakit jamur pada kulit yang secara medis disebut
juga dengan mikosis superfisialis (bagian permukaan kulit). Sedangkan dari
berbagai jenis dermatomikosis yang sering mengenai manusia, dikenal dengan
kelompok dermatofitosis yang di Indonesia dikenal dengan kurap / kadas. Sedangkan
panu masuk dalam kategori dermatomikosis yang nondermatofitosis.
Penyebab
– Paparan terhadap jamur sering terjadi. Infeksi jauh lebih jarang.
– Faktor genetik memainkan peran dalam tingkat penularan mikosis kuku dan
kaki.
– Mikosis pada hewan (misal : sapi, marmut, kucing) menyebar dengan mudah
pada manusia dan menyebabkan tinea pada ekstremitas, badan dan wajah.
Gambaran klinis
– Tinea kutaneus biasanya mempunyai tepi berskuama, eritematus dan meninggi,
berbentuk lingkaran (cincin) dan gatal.
– Pada panu, muncul bercak bersisik halus yang berwarna putih hingga kecokelatan
bisa pada daerah mana saja di badan termasuk leher dan lengan. Biasanya
menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala
yang berambut.
– Infeksi jamur kulit ini biasanya juga menyerang kaum wanita. Ia terjadi dalam
kulit dan vagina hingga mengalami pertumbuhan setelah mengalami rangsangan,
yang menyebabkan infeksi. Jamur dapat mengiritasi lebih dari satu kali. Dengan
ditandai antara lain, adanya penebalan, putih, dadih seperti kotoran, peradangan,
serta sakit selama buang air kecil atau sewaktu hubungan seksual.
Diagnosis
Gambaran spesifik infeksi jamur pada kulit.
Dengan cara pemeriksaan mikroskopis dari bahan kerokan kulit yang terserang.

Penatalaksanaan
– Tinea biasanya diterapi dengan obat topikal
– Griseofulvin tablet hanya efektif pada dermatofit.
– Nistatin hanya efektif pada Candida.
– Mikonazol topikal dan ketokonazol sistemik efektif untuk dermatofit dan
candida.
– Durasi terapi 1 bulan dengan derivat azol.
– Dermatofitosis
§ Sistemik (diberikan bila lesi luas)
Griseofulvin micronized 500 – 1000mg sehari selama 2 – 6 minggu
§ Topikal
Kombinasi asam salisilat 3% dengan asam benzoat 6%.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.