TOXOCARIASIS

10 11 2009

TOXOCARIASIS ICD-9 128.0; ICD-10 B83.0
(Visceral larva migrans, Larva migrans visceralis, Ocular larva migrans, Infeksi Toxocara
[Canis] [Cati])
1. Identifikasi
Infeksi kronis biasanya ringan terutama menyerang anak-anak, yang belakangan ini
cenderung juga menyerang orang dewasa, disebabkan oleh migrasi larva dari Toxocara
dalam organ atau jaringan tubuh.
518
Gejala klinis ditandai dengan eosinofilia yang lamanya bervariasi, hepatomegali,
hiperalbuminemia, gejala paru dan demam.
Serangan akut dan berat dapat terjadi, dalam keadaan ini lekosit dapat mencapai
100,000/mm3 atau lebih (dengan unit SI lebih dari 100 x109/l), dengan 50 – 90% terdiri
dari eosinofil. Gejala klinis bisa berlangsung sampai satu tahun atau lebih. Bisa timbul
gejala pneumonitis, sakit perut kronis, ruam seluruh tubuh dan bisa juga timbul gejala
neurologis karena terjadi kelainan fokal. Bisa juga tejadi endoftalmitis oleh karena larva
masuk ke dalam bola mata, hal ini biasanya terjadi pada anak yang agak besar, berakibat
turunnya visus pada mata yang terkena. Kelainan yang terjadi pada retina harus dibedakan
dengan retinoblastoma atau adanya massa lain pada retina. Penyakit ini biasanya tidak
fatal. Pemeriksaan Elisa dengan menggunakan antigen stadium larva sensitivitasnya 75 –
90% pada visceral larva migrans (VLM) dan pada infeksi bola mata. Prosedur western
blotting dapat dipakai untuk meningkatkan spesifisitas dari skrining menggunakan Elisa.
2. Penyebab penyakit
Toxocora canis dan T. cati, lebih banyak sebagai penyebab adalah T. canis
3. Distribusi penyakit
Tersebar diseluruh dunia. Penyakit dengan manifestasi yang berat terjadi secara sporadis
pada anak-anak usia 14 – 40 bulan dan dapat juga terjadi pada usia yang lebih tua.
Saudara dari penderita dapat juga dan sering ditemukan dengan eosinofilia dan gejala
lainnya yang menandakan adanya infeksi ringan atau gejala resedival.
Penelitian serologis yang dilakukan dikalangan anak-anak yang tidak menunjukkan gejala
di AS menunjukkan hasil yang sangat bervariasi, rata-rata 3% positif pada sub populasi
tertentu namun pada subpopulasi tertentu mencapai angka 23%. Seroprevalensi global
bervariasi mulai dari 0 – 4% di Madrid dan Jerman; 31% dikalangan anak-anak di
Irlandia; 66% didaerah pedesaan Spanyol; dan sekitar 83% di subpopulasi tertentu di
Karibia. Orang dewasa jarang yang terkena infeksi akut.
4. Reservoir
Anjing dan kucing merupakan reservoir untuk T.canis dan T. cati.
Untuk anjing dan kucing terinfeksi melalui migrasi transplacenta dan migrasi trans
mammaria. Telur cacing dapat ditemukan pada kotoran pada saat anak anjing dan anak
kucing sudah berusia 3 minggu. Infeksi pada anjing betina bisa berakhir dengan
sendirinya atau tetap (dormant) pada saat anjing menjadi dewasa. Pada saat anjing bunting
larva T. canis menjadi aktif dan menginfeksi fetus melalui placenta dan menginfeksi anak
mereka yang baru lahir melalui susu mereka.
Pada kucing, kucing jantan dan kucing betina sama-sama rentan terhadap infeksi, tidak
ada perbedaan nyata; namun kucing dewasa lebih rentan daripada kucing yang lebih
muda.
5. Cara-cara penularan
Kebanyakan infeksi yang terjadi pada anak-anak adalah secara langsung atau tidak
langsung karena menelan telur Toxocara yang infektif. Secara tidak langsung melalui
makanan seperti sayur sayuran yang tercemar atau secara langsung melalui tanah yang
tercemar dengan perantaraan tangan yang kotor masuk kedalam mulut.
519
Sebagian infeksi terjadi karena menelan larva yang ada pada hati ayam mentah, atau hati
sapi dan biri biri mentah. Telur dikeluarkan melalui kotoran anjing dan kucing; sampel
yang diambil dari tanah pertamanan di AS dan Inggris 30% mengandung telur.
Ditaman-taman tertentu di Jepang 75% kantong pasir mengandung telur. Telur
memerlukan waktu selama 1 – 3 minggu untuk menjadi infektif dan tetap hidup serta
infektif selama beberapa bulan; dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang kering.
Telur setelah tertelan, embrio akan keluar dari telur didalam intestinum; larva kemudian
akan menembus dinding usus dan migrasi kedalam hati dan jaringn lain melalui saluran
limfe dan sistem sirkulasi lainnya. Dari hati larva akan menyebar ke jaringan lain terutama
ke paru-paru dan organ-organ didalam abdomen (visceral larva migrans), atau bola mata
(Ocular larva migrans), dan migrasi larva ini dapat merusak jaringan dan membentuk lesi
granulomatosa. Parasit tidak dapat melakukan replikasi pada manusia dan pada hospes
paratenic/endstage lain; namun larva dapat tetap hidup dan bertahan dalam jaringan
selama bertahun-tahun, terutama pada keadaan penyakit yang asymptomatic. Jika jaringan
hospes paratenic dimakan maka larva yang ada pada jaringan tersebut akan menjadi
infektif terhadap hospes yang baru.
6. Masa Inkubasi
Masa inkubasi pada anak-anak berlangsung dalam beberapa minggu dan beberapa bulan
dan sangat tergantung pada intensitas infeksi, terjadinya reinfeksi dan sensitivitas
penderita. Gejala okuler muncul 4 – 10 tahun setelah terjadinya infeksi awal. Masa
inkubasi dari infeksi yang diperoleh karena mengkonsumsi hati mentah sangat cepat
(beberapa jam sampai beberapa hari).
7. Masa Penularan: Tidak terjadi penularan langsung dari orang ke orang.
8. Kerentanan dan Kekebalan
Insidensi penyakit yang rendah pada anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa
disebabkan oleh tingkat pemajanan yang rendah. Dapat terjadi reinfeksi
9. Cara – cara pemberantasan
A. Cara-cara Pencegahan
1). Berikan penyuluhan kepada masyarakat, terutama kepada pemilik binatang
peliharaan tentang bahaya dari kebiasaan pica (menggigit, menjilat benda-benda)
yang terpajan daerah yang tercemar oleh kotoran hewan peliharaan. Juga
dijelaskan tentang bahaya mengkonsumsi hati mentah hewan yang terpajan dengan
anjing dan kucing. Orang tua dan anak-anak diberitahu tentang risiko kontak
dengan binatang peliharaan seperti anjing dan kucing dan bagaimana cara
mengurangi risiko tersebut.
2). Hindari terjadinya kontaminasi tanah dan pekarangan tempat anak-anak bermain
dari kotoran anjing dan kucing, terutama didaerah perkotaan dikompleks
perumahan. Ingatkan para pemilik anjing dan kucing agar bertanggung jawab
menjaga kesehatan binatang peliharaannya termasuk membersihkan kotorannya
dan membuang pada tempatnya dari tempat-tempat umum. Lakukan pengawasan
dan pemberantasan anjing dan kucing liar.
520
3). Bersihkan tempat-tempat bermain anak-anak dari kotoran anjing dan kucing.
Sandboxes (kotak berisi pasir) tempat bermain anak-anak merupakan tempat yang
baik bagi kucing untuk membuang kotoran; tutuplah jika tidak digunakan.
4). Berikan obat cacing kepada anjing dan kucing mulai dari usia tiga minggu,
diulangi sebanyak tiga kali berturut-turut dengan interval 2 minggu dan diulang
setiap 6 bulan sekali. Begitu juga binatang piaraan yang sedang menyusui anaknya
diberikan obat cacing. Kotoran hewan baik yang diobati maupun yang tidak
hendaknya dibuang dengan cara yang saniter.
5) Biasakan mencuci tangan dengan sabun setelah memegang tanah atau sebelum
makan.
6). Ajarkan kepada anak-anak untuk tidak memasukkn barang-barang kotor kedalam
mulut mereka.
B. Pengawasan Penderita, Kontak dan Lingkungan Sekitarnya
1). Laporan kepada Dinas Kesehatan setempat: Laporan resmi biasanya tidak
diperlukan, kelas 5 (lihat tetang pelaporan penyakit menular)
2). Isolasi: Tidak dilakukan
3). Disinfeksi serentak: Tidak dilakukan
4). Karantina: Tidak dilakukan
5). Imunisasi terhadap kontak : Tidak dilakukan
6). Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi: Lakukan penyilidikan untuk
menemukan terjadinya penularan terhadap kasus indeks.
Selidiki juga mereka yang terpajan (lihat 9A di atas). Berikan pengobatan kepada
penderita tanpa gejala, mereka yang tes Elisanya positif bukan indikasi untuk
diberi pengobatan; namun jika ditemukan adanya hipereosinofilia lakukan
pengobatan.
7). Pengobatan spesifik: Obat pilihan adalah Mebendazole atau Albendazole karena
relatif aman. Diethylcarbamazine dan thiabendazole pernah digunakan namun
efektivitasnya masih dipertanyakan.
C. Upaya penanggulangan wabah: Tidak ada.
D. Implikasi bencana: Tidak ada.
E. Penanganan Internasional : Tidak ada








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.