RIKETSIOSES, DITULARKAN KUTU

11 11 2009

(Spotted fever group, grup Demam Bercak)
Rikettsioses adalah kelompok penyakit yang secara klinis sama dan disebabkan oleh rikettsia.
Penyakit-penyakit ini ditularkan oleh kutu iksodid (keras), yang tersebar di seluruh dunia;
spesies kutu sangat berbeda tergantung pada daerah geografisnya. Untuk semua jenis penyakit
demam riketsia ini, upaya pemberantasannya sama, tetrasiklin dan kloramfenikol efektif
untuk mengobati penyakit ini.
Tes enzyme immunoassay dan tes IFA pada umumnya memberi hasil positif pada minggu
kedua; tes CF yang menggunakan antigen grup spesifik demam bercak memberikan hasil
positif beberapa hari kemudian. Tes Weil-Felix menggunakan Proteus OX-19 dan antigen
Proteus OX-2 kurang spesifik dan sebaiknya dikonfirmasikan dengan tes serologis yang lebih
spesifik.
I. DEMAM BERCAK ROCKY MOUNTAIN ICD-9 082; ICD-10 A77.0
(Tifus kutu Amerika Utara, Demam Bercak Dunia Baru, Demam Tifus yang ditularkan
oleh kutu, Demam Sao Paulo)
1. Identifikasi
Ciri penyakit demam bercak kelompok Riketsia ini ditandai dengan onset yang tiba-tiba
dari demam ringan hingga demam tinggi, biasanya berlangsung selama 2-3 minggu pada
kasus yang tidak diobati, malaise yang jelas, sakit otot dalam, sakit kepala parah,
menggigigl dan injeksi konjungtiva. Ruam makulopapuler biasanya muncul di akhir hari
ketiga hingga kelima pada ekstremitas; yang segera akan menyebar ke telapak tangan dan
kaki, kemudian akan menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh. Eksantem berbentuk
petechiae terjadi pada 40% hingga 60% penderita, biasanya pada atau sesudah hari ke-6.
Case Fatality Rate-nya berkisar antara 13% hingga 25% bila tidak diberikan pengobatan
spesifik; dengan diagnosa dini dan pengobatan dini, kematian biasanya tidak terjadi.
Namun sekitar 3%-5% dari kasus-kasus yang dilaporkan di AS, akan berakhir dengan
kematian. Faktor risiko yang mendasari parahnya penyakit antara lain terlambatnya
pemberian antibiotika dan usia pasien lebih dari 40 tahun. Ruam tidak muncul atau ruam
terlambat atau kegagalan mengenal ruam yang khas pada penderita berkulit hitam
sehingga diagnosa dan pengobatan yang cepat dan tepat terlambat dilakukan, hal ini
meningkatkan angka kematian.
449
Demam bercak pegunungan Rocky (Rocky Mountain Spotted Fever, RMSF) pada awalnya
bisa dikelirukan dengan ehrliciosis, meningokoksemia (lihat Meningitis) dan infeksi
enterovirus.
Diagnosa ditegakkan melalui pemeriksaan serologis dengan ditemukannya antibodi
spesifik terhadap antigent tertentu. Pada awal sakit, riketsia bisa dideteksi pada darah
dengan pemeriksaan PCR atau pada biopsi kulit pemeriksaan menggunakan immunostains
atau PCR.
2. Penyebab Penyakit: – Rickettsia rickettsii.
3. Distribusi Penyakit
Tersebar di seluruh AS terutama dari bulan April hingga September. Hampir 50% dari
kasus yang dilaporkan pada tahun 1993 adalah dari wilayah Atlantik selatan dan lebih dari
20% berasal dari wilayah Tengah-Selatan bagian Barat; angka insidensi tertinggi
ditemukan di daerah Karolina Utara dan Oklahoma. Beberapa kasus telah dilaporkan dari
wilayah Rocky Mountain. Di bagian barat AS, orang dewasa pria lebih sering terinfeksi,
sementara di bagian timur, insidensinya lebih tinggi pada anak-anak; perbedaan ini
berkaitan dengan kondisi dan tingkat pajanan dengan kutu yang terinfeksi. Infeksi juga
telah dilaporkan terjadi di Kanada, Meksiko bagian barat dan tengah, Panama, Kosta Rika,
Kolombia, Argentina dan Brasil.
4. Reservoir
Ada secara alami pada pinjal melalui pasasi transovarian dan transstadial. Riketsia dapat
ditularkan pada anjing, berbagai tikus dan binatang lain; binatang yang terinfeksi biasanya
subklinis tanpa gejala, tetapi telah diketahui penyakit terjadi pada tikus dan anjing.
5. Cara Penularan
Biasanya melalui gigitan pinjal yang terinfeksi. Setidaknya dibutuhkan waktu 4 sampai 6
jam sesudah kutu menempel dan menghisap darah, sebelum Riketsia direaktifkan dan
dapat menginfeksi manusia. Kontaminasi pada luka di kulit atau selaput lendir dengan
jaringan atau kotoran dari pinjal juga bisa menimbulkan infeksi. Di bagian timur dan
selatan AS, vektor yang umum adalah pinjal anjing Amerika, Dermacentor variabilis, dan
di barat laut AS, pinjal kutu Rocky Mountain, D. andersoni. Vektor utama di Amerika
Latin adalah A. cajennense.
6. Masa Inkubasi: – Dari 3 hingga 14 hari.
7. Masa Penularan: Tidak ditularkan langsung dari orang ke orang. Pinjal tetap infektif
sepanjang hidupnya, biasanya sekitar 18 bulan.
8. Kerentanan dan Kekebalan: Semua orang rentan terhadap penyakit ini. Satu kali
serangan bisa menimbulkan imunitas yang lama.
450
9. Cara-cara Pemberantasan
A. Tindakan pencegahan
1) Juga lihat penyakit Lyme, 9A. Buang pinjal yang baru menggigit atau pinjal yang
sedang merayap sesudah terpajan.
2) Cari dan bersihkan anjing dari pinjal dan gunakan kalung anjing yang sudah diberi
repelan untuk mengurangi populasi pinjal di sekitar tempat tinggal.
3) Tidak ada vaksin yang mendapat ijin beredar di AS. Percobaan vaksin
konvensional yaitu vaksin dengan organisme mati gagal melindungi infeksi 75%
resipien yang diberi imunisasi.
B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar
1) Laporan kepada petugas kesehatan setempat: Kasus wajib dilaporkan di sebagian
besar negara bagian di AS dan kebanyakan di negara-negara lain, Kelas 2B (lihat
tentang pelaporan penyakit menular).
2) Isolasi: Tidak dilakukan.
3) Disinfeksi serentak: Buang semua pinjal dengan hati-hati dari semua penderita.
4) Karantina: Tidak dilakukan.
5) Imunisasi kontak: Tidak penting.
6) Investigasi kontak dan sumber infeksi: Tidak bermanfaat kecuali dilakukan
dengan gerakan masyarakat serentak (Lihat penyakit Lyme, 9C).
7) Pengobatan spesifik: Tetrasiklin (biasanya doksisiklin) diberikan setiap hari per
oral atau intravena selama 5-7 hari dan paling sedikit selama 48 jam setelah
penderita tidak panas. Kloramfenikol juga bisa digunakan, namun diberikan jika
ada kontraindikasi pemberian tetrasiklin. Pengobatan segera dilakukan cukup
dengan pertimbangan epidemiologis dan klinis tanpa menunggu konfirmasi
laboratorium untuk menunjang diagnosa.
C. Penanggulangan wabah: Lihat penyakit Lyme, 9C.
D. Implikasi bencana: Tidak ada.
E. Tindakan Internasional: Manfaatkan Pusat-pusat Kerja sama WHO.
II. DEMAM BOUTONNEUSE ICD-9 082; ICD-10 A77.1
(Demam kutu Mediterania, Demam bercak Mediterania, Demam Marseilles, Tifus pinjal
Kenya, Tifus pinjal India, Tifus pinjal Israel)
1. Identifikasi
Penyakit dengan gejala demam ringan hingga berat yang berlangsung selama beberapa
hari hingga 2 minggu; mungkin ada lesi primer atau jaringan parut pada tempat gigitan
pinjal. Jaringan parut ini (tache noire), akan nampak semakin jelas pada saat demam, ia
berupa ulkus kecil berukuran 2-5 mm dengan warna hitam di tengah dengan warna merah
di sekitarnya; kelenjar limfe setempat kadang-kadang membesar. Di beberapa tempat,
seperti di Negev, Israel, lesi primer jarang ditemukan.
451
Ruam eritema makulopapuler biasanya muncul di telapak tangan dan telapak kaki pada
hari ke-4 hingga 5 dan bertahan selama 6-7 hari; dengan pengobatan antibiotika, demam
akan berlangsung selama tidak lebih dari 2 hari. Case Fataliry Rate-nya sangat rendah
(kurang dari 3%) walaupun tanpa terapi spesifik.
Diagnosa dikonfirmasikan dengan melakukan tes serologi atau PCR atau immunostains
dari biopsi jaringan. Dari kultur darah pada fibroblast manusia satu lapis bisa
memperlihatkan adanya organisme ini dengan tes DFA.
2. Penyebab Penyakit: Rickettsia conorii dan organisme lain yang sejenis.
3. Distribusi Penyakit
Tersebar luas di seluruh benua Afrika, India dan bagian lain dari Eropa dan daerah Timur
Tengah yang berdekatan dengan Mediterania, Laut Kaspia dan Laut Hitam. Meluasnya
daerah endemis dari Eropa ke bagian utara terjadi karena para pelancong kadang-kadang
membawa anjing-anjing mereka; anjing terinfeksi oleh pinjal dan membawanya pulang.
4. Reservoir: sama dengan RMSF (lihat bagian 1,4 di atas).
5. Cara Penularan: Di daerah Mediterania, melalui gigitan Rhipicephalus sanguineus, kutu
anjing coklat yang terinfeksi.
6. Masa Inkubasi: Biasanya 5-7 hari.
7, 8 dan 9. Masa Penularan, Kerentanan dan Kekebalan, Cara-cara Pemberantasan: -
Sama dengan RMSF (lihat bagian I, 7,8 dan 9 di atas).
III. DEMAM GIGITAN PINJAL AFRIKA ICD-9 082; ICD-10 A77.8
1. Identifikasi
Secara klinis dengan demam Boutonneuse (lihat bagian II, di atas), namun penyebaran
ruam biasanya tidak jelas atau tidak ada pada demam gigitan kutu Afrika. Jaringan parut
multiple, limfangitis, limfadenopati dan pembengkakan yang terjadi di sekitar jaringan
parut lebih sering terjadi pada demam gigitan pinjal Afrika dibandingkan demam
Boutonneuse. KLB penyakit ini bisa terjadi pada saat kelompok pelancong (seperti orang
yang melakukan safari di Afrika) digigit oleh pinjal. Penyakit ini sering dibawa ke AS dan
Eropa.
2. Penyebab Penyakit: – Rickettsia africae.
3. Distribusi Penyakit: Sub-Sahara Afrika, termasuk Boswana, Zimbabwe, Swazilan dan
Afrika Selatan.
4. Reservoir: Seperti pada RMSF (lihat seksi 1 dan 4 di atas).
452
5. Cara Penularan: Seperti RMSF (lihat seksi 1 dan 5 di atas), Amblyoma hebreum
berperan sebagai vektor utama.
6. Masa Inkubasi: – 1 – 15 hari (media inkubasi rata-rata 4 hari sesudah gigitan kutu).
7, 8 dan 9. Masa Penularan, Kerentanan dan Kekebalan, Cara-cara Pemberantasan:
Seperti RMSF (lihat seksi 1, 7, 8 dan 9 di atas).
IV. TIFUS PINJAL QUEENSLAND ICD-9 082.3; ICD-10 A77.3
1. Identifikasi
Gambaran klinis sama dengan seperti demam Boutonneuse (lihat seksi II, di atas).
2. Penyebab penyakit: Rickettsia australis.
3. Distribusi penyakit: Quuensland, New South Wales, Tasmania dan daerah pantai di
Viktoria Timur, Australia.
4. Reservoir: seperti RMSF (lihat seksi I, 4 di atas).
5. Cara Penularan: Seperti pada RMSF (lihat seksi I, 5, di atas). Ixodes holocylus,
yangmenginfeksi binatang berkantong dan tikus liar, mungkin vektor utama.
6. Masa inkubasi: 7-10 hari.
7, 8 dan 9. Masa penularan, Kerentanan dan kekebalan, Cara-cara pemberantasan:
Sama seperti RMSF (lihat bagian I, 7, 8 dan 9 di atas).
V. DEMAM PINJAL ASIA UTARA ICD-9 082.2; ICD-10 A77.2
1. Identifikasi
Gambaran klinis sama dengan demam Boutonneuse (lihat seksi II di atas).
2. Penyebab penyakit: – Rickettsia sibirica.
3. Distribusi Penyakit: Daerah Asia, di bekas Uni Soviet, Cina Utara dan Republik Rakyat
Mongolia.
4. Reservoir: Seperti RMSF (lihat bagian I, 4 di atas).
5. Cara penularan: melalui gigitan kutu genus Dermacentor dan Haemaphysalis, yang
menginfeksi tikus liar.
453
6. Masa inkubasi: – 2 sampai 7 hari.
7, 8 dan 9. Masa penularan, Kerentanan dan Kekebalan, Cara-cara pemberantasan:
Sama seperti RMSF (lihat bagian I, 7, 8 dan 9 di atas).








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.