TETANUS

10 11 2009

TETANUS ICD–9 037; ICD-10 A35
(Lockjaw)
(Tetanus obstetrik : ICD – 10 A34)
1. Identifikasi
Tetanus adalah penyakit akut yang disebabkan oleh eksotoksin yang dikeluarkan oleh
basil tetanus yang hidup secara anaerobic pada luka. Ciri khas dari tetanus adalah adanya
kontraksi otot disertai rasa sakit, terutama otot leher kemudian diikuti dengan otot-otot
seluruh badan. Gejala pertama yang muncul yang mengarahkan kita untuk memikirkan
tetanus pada anak usia lebih tua dan orang dewasa adalah jika ditemukan adanya kaku otot
pada abdomen.
512
Walaupun kaku otot abdomen bisa disebabkan oleh trauma pada daerah tersebut. Kejang
seluruh tubuh dapat terjadi akibat rangsangan. Posisi yang khas pada penderita tetanus
yang mengalami kejang adalah terjadinya opisthotonus dan ekspresi wajah yang disebut
dengan “risus sardonicus”.
Kadang-kadang riwayat adanya trauma atau riwayat port d’entre tidak diketahui dengan
jelas pada penderita tetanus. CFR berkisar 10%-90%, paling tinggi pada bayi
dibandingkan dengan pada penderita yang lebih dewasa. CFR juga bervariasi dan
berbanding terbalik dengan masa inkubasi, tersedianya fasilitas perawatan intensif dan
tenaga medis yang berpengalaman dalam perawatan intensif.
Upaya untuk menemukan hasil tetanus melalui pemeriksaan laboratorium biasanya kurang
berhasil. Basil jarang dapat ditemukan dari luka dan antibodi jarang terdeteksi.
2. Penyebab Infeksi: Clostridium tetani, basil tetanus.
3. Distribusi penyakit
Tersebar diseluruh dunia, sporadis dan relatif jarang terjadi di AS dan negara-negara
industri. Selama periode 1995-1997, terdapat 124 kasus yang dilaporkan dari 33 negara
bagian di AS, 60 % diantaranya terjadi pada usia 20-59 tahun; 35 % pada usia di atas 60
tahun, dan 5 % pada usia 20 tahun. Angka CFR meningkat sebesar 2,3 % pada mereka
yang berumur 20-39 tahun dan 18 % pada mereka yang berumur di atas 60 tahun.
Tetanus yang terjadi dikalangan pecandu Napza suntik berkisar antara 11 % dari 124
kasus tetanus dibandingkan dengan 3,6 % yang terjadi selama tahun 1991 -1994.
Rata-rata setiap tahun penderita yang di laporkan ke CDC Atlanta sebanyak 50 kasus.
Tetanus pada umumnya terjadi didaerah pertanian dan daerah yang masih terbelakang,
dimana orang lebih sering kontak dengan kotoran hewan dan program imunisasi tidak
adekuat. Penyebab utama kematian bayi di Asia, Afrika dan Amerika Selatan, terutama di
daerah pedesaan dan daerah tropis disebabkan oleh tetanus neonatorum (lihat dibawah).
Pemakaian obat-obatan terlarang oleh para pecandu, terutama yang di gunakan melalui
suntikan baik intramuskuler atau subkutan, dapat menimbulkan kasus individual dan
KLB terbatas.
4. Reservoir
Reservoir dari basil tetanus adalah usus kuda dan hewan lainnya termasuk manusia
dimana kuman tersebut berbahaya bagi hospes dan merupakan flora normal dalam usus;
tanah atau benda-benda yang dapat terkontaminasi dengan tinja hewan atau manusia dapat
juga berperan sebagai reservoir. Spora tetanus dapat ditemukan dimana-mana dan tersebar
di lingkungan sekitar kita dan dapat mengkontaminasi berbagai jenis luka.
5. Cara Penularan
Spora tetanus masuk kedalam tubuh biasanya melalui luka tusuk yang tercemar dengan
tanah, debu jalanan atau tinja hewan dan manusia, spora dapat juga masuk melalui luka
bakar atau luka lain yang sepele atau tidak di hiraukan, atau juga dapat melalui injeksi dari
jarum suntik yang tercemar yang dilakukan oleh penyuntik liar. Tetanus kadang kala
sebagai kejadian ikutan pasca pembedahan termasuk setelah sirkumsisi.
Adanya jaringan nekrotik atau benda asing dalam tubuh manusia mempermudah
pertumbuhan bakteri anaerobik.
513
Tetanus yang terjadi setelah terjadi luka, biasanya penderita pada waktu mengalami luka
menganggap lukanya tidak perlu dibawa ke dokter.
6. Masa Inkubasi
Biasanya 3-21 hari, walaupun rentang waktu bisa 1 hari sampai beberapa bulan, hal ini
tergantung pada ciri, kedalaman dan letak luka, rata-rata masa inkubasi adalah 10 hari.
Kebanyakan kasus terjadi dalam waktu 14 hari. Pada umumnya makin pendek masa
inkubasi biasanya karena luka terkontaminsi berat, akibatnya makin berat penyakitnya dan
makin jelek prognosisnya.
7. Masa Penularan: Tidak ada penularan langsung dari manusia kepada manusia.
8. Kerentanan dan kekebalan
Semua orang rentan terhadap tetanus. Pemberian imunisasi aktif dengan tetanus toxoid
(TT) dapat menimbulkan kekebalan yang dapat bertahan paling sedikit selama 10 tahun
setelah pemberian imunisasi lengkap. Kekebalan pasif sementara didapat setelah
pemberian Tetanus Immunoglobin (TIG) atau setelah pemberian tetanus antitoxin (serum
kuda)
Bayi yang lahir dari ibu yang telah mendapatkan imunisasi TT lengkap terhindar dari
tetanus neonatorum. Setelah sembuh dari tetanus tidak timbul kekebalan, orang tersebut
dapat terserang untuk kedua kalinya, oleh karena itu segera setalah sembuh dari tetanus
orang tersebut segera diberikan imunisasi TT dasar.
9. Cara-cara pemberantasan
A. Cara-cara pencegahan
1) Beri penyuluhan kepada mesyarakat tentang manfaat pemberian imunisasi TT
lengkap. Berikan juga penjelasan tentang bahayanya luka tertutup terhadap
kemungkinan terkena tetanus dan perlunya pemberian profilaksi aktif maupun
pasif setelah mendapatkan luka.
2) Berikan imunisasi aktif dengan TT kepada anggota masyarakat yang dapat
memberikan perlindungan paling sedikit 10 tahun. Setelah seri imunisasi dasar
diberikan selang beberapa lama dapat diberikan dosis booster sekali, dosis booster
ini dapat menaikkan titer antibodi cukup tinggi, Tetanus Toxoid biasanya diberikan
bersama-sama Diphtheria toxoid dan vaksin pertussis dalam kombinasi vaksin
(DPT atau DaPT) atau dalam bentuk DT untuk anak usia dibawah 7 tahun dimana
pemberian vaksin pertussis merupakan kontraindikasi atau dalam bentuk Td untuk
orang dewasa.
Untuk anak usia 7 tahun keatas di AS tersedia preparat vaksin yang didalamnya
berisi Haemophylus influenzae “type b conjugate” (DPT – Hib), begitu juga Hib
dikombinasi dengan preparat yang berisi pertussis aseluler (DaPT). Di beberapa
negara ada juga vaksin DPT, DT dan T yang dikombinasikan dengan vaksin polio
inaktif. Dinegara dimana program imunisasinya kurang baik semua wanita hamil
harus diberikan 2 dosis TT, vaksin TT non adsorbed (“plain”) imunogenisitasnya
kurang dibandingkan dengan yang adsorbed baik pada pemberian imunisasi dasar
maupun pada pemberian booster. Reaksi lokal setelah pemberian TT sering terjadi
namun ringan.
514
Reaksi lokal dan sistemik yang berat jarang terjadi, terutama setelah pemberian TT
yang berulang kali.
a) Jadwal imunisasi TT yang dianjurkan sama dengan jadwal pemberian vaksin
difteri (lihat Difteria, 9A).
b) Walaupun TT dianjurkan untuk diberikan kepada seluruh anggota masyarakat
tanpa memandang usia; namun penting sekali untuk diberikan kepada para
pekerja atau orang dengan risiko tinggi seperti mereka yang kontak dengan
tanah, air limbah dan kotoran hewan; anggota militer; polisi dan mereka yang
rentan terhadap trauma; dan kelompok lain yang mempunyai risiko tinggi kena
tetanus.
TT perlu diberikan kepada WUS dan ibu hamil untuk melindungi bayinya
terkena tetanus neonatorum.
c) Perlindungan aktif perlu dipertahankan dengan pemberian dosis booster Td
setiap 10 tahun sekali.
d) Anak-anak dan orang dewasa yang menderita HIV/AIDS atau yang
mempunyai sistem kekebalan rendah, jadwal pemberian imunisasi TT sama
dengan jadwal pemberian untuk orang normal walaupun dengan risiko reaksi
immunitasnya suboptimal.
3). Tindakan pencegahan pada perawatan luka :
Upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya tetanus pada pederita luka
sangat tergantung pada penilaian terhadap keadaan luka itu sendiri dan status
imunisasi penderita.
Penilaian harus dilakukan dengan hati-hati apakah luka itu bersih atau kotor,
apakah penderita pernah mendapatkan imunisasi TT ataukah pernah mendapatkan
TIG (Tetanus Immune Globulin) sebelumnya (lihat table dibawah). Bersihkan luka
sebagaimana mestinya, bila diperlukan lakukan debridement luka dan berikan
antibiotika yang tepat.
a). Bagi mereka yang sudah pernah mendapat imunisasi TT lengkap dan hanya
menderita luka ringan dan tidak terkontaminasi, dosis booster TT diberikan
jika imunisasi TT terakhir yang diberikan sudah lebih dari 10 tahun yang lalu.
Untuk luka yang luas dan kotor, berikan dosis tunggal booster tetanus toxoid
(sebaiknya Td) pada hari itu juga, dengan catatan penderita tidak pernah
mendapatkan suntikan TT selama lima tahun terakhir.
b). Bagi orang yang belum mendapatkan imunisasi dasar TT secara lengkap, pada
saat mengalami luka berikan dosis tunggal TT segera. TIG diberikan selain TT
jika luka yang dialami cukup luas dan terkontaminasi dengan tanah dan
kotoran hewan. Mengenai jenis tetanus toxoid yang dipakai seperti telah
dijelaskan sebelumnya tergantung pada usia dan status imunisasi penderita,
yang tujuannya adalah sekaligus melengkapi dosis imunisasi dasar dari
penderita. Vaksin dapat berupa DaPT, DPT, DT atau Td.
Imunisasi pasif diberikan berupa TIG sebanyak 250 1U (Catatan: IU =
International Unit). Jika TIG tidak ada dapat diberikan antitoksin yang berasal dari
serum binatang sebanyak 1.500 – 5.000 IU. Indikasi pemberian imunisasi pasif
adalah jika lukanya kotor dan luas/dalam dan riwayat imunisasinya tidak
jelas/tidak pernah diimunisasi atau imunisasi dasarnya tidak lengkap.
515
Jika TT dan TIG harus diberikan pada saat yang sama gunakanlah jarum suntik
dan semprit yang berbeda, suntikan ditempat yang berbeda.
Jika antitoksin yang berasal dari serum binatang (ATS) yang dipakai lakukan
terlebih dulu Skin test untuk mencegah terjadinya syok anafilaksis.
Skin test dilakukan dengan menyuntikkan antitoksin yang telah diencerkan dengan
garam fisiologis dengan perbandingan 1 : 100, sebanyak 0,02 cc intrakutan. Pada
saat yang bersamaan siapkan alat suntik yang telah diisi dengan adrenaline.
Skin test dengan larutan yang lebih encer (1 : 1000) dilakukan terhadap penderita
yang sebelumnya sudah pernah mendapatkan suntikan antitoksin dari serum
binatang. Sebagai kontrol ditempat lain disuntikkan garam fisiologis intrakutan.
Jika setelah 15 – 30 menit setelah suntikan timbul benjolan dikulit yang dikelilingi
oleh warna kemerahan berupa eritema dengan ukuran 3 mm atau lebih
dibandingkan dengan kontrol maka lakukan desensitisasi terhadap penderita.
Pemberian penisilin selama 7 hari dapat membentuk C. Tetani didalam luka
namun hal ini tidak mengurangi upaya pengobatan yang tepat dari luka, bersamasama
dengan pemberian imunisasi yang tepat.
B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan terdekat.
1). Laporan ke Dinas Kesehatan setempat: di AS, tetanus wajib dilaporkan diseluruh
negara bagian dan juga di banyak negara, kategori 2B (lihat pelaporan Penyakit
Menular).
2). Tindakan isolasi: Tidak ada
3). Tindakan disinfeksi segera: Tidak ada
4). Tindakan karantina: Tidak ada
5). Imunisasi terhadap kontak: Tidak ada
6). Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi: Lakukan investigasi kasus untuk
mengetahui derajat dan asal luka.
7). Pengobatan spesifik : TIG IM dengan dosis 3.000 – 6.000 I.U. Jika TIG tidak
tersedia, berikan anti toxin tetanus (dari serum kuda) dengan dosis tunggal
intravena setelah dilakukan uji terhadap hipersensitivitas; metronidazole intravena
dalam dosis besar diberikan untuk jangka waktu 7 -14 hari. Luka dibersihkan dan
dilakukan debridement yang luas dan bila memungkinkan dilakukan eksisi luka.
Debridement pada potongan tali pusat neonatus tidak dilakukan.
Pertahankan aliran udara yang cukup pada jalan nafas dan bila diperlukan dapat
diberkan obat penenang. Berikan obat muscle relaxant, bersamaan dengan itu
lakukan tracheostomy atau lakukan intubasi nasotrakeal.
Pemberian nafas buatan secara mekanis membantu menyelamatkan nyawa
penderita. Imunisasi aktif dapat diberikan bersamaan dengan pengobatan dan
tindakan lain.
C. Penanggulangan Wabah
Walaupun sangat jarang, jika terjadi KLB, lakukan penyelidikan terhadap
kemungkinan terjadinya kontaminasi pada penggunaan obat-obat terlarang dengan
suntikan.
516
D. Dampak bencana
Kerusuhan sosial (konflik militer, huru hara) dan bencana alam (banjir, badai, gempa
bumi) yang mengakibatkan banyak orang yang luka pada populasi yang tidak pernah
mendapatkan imunisasi sehingga pada keadaan ini ada peningkatan kebutuhan TIG
atau anti toxin tetanus atau toxoid untuk mengobati penderita yang mengalami luka
luka.
E. Tindakan internasional
Imunisasi TT dianjurkan untuk diberikan kepada wisatawan manca negara.

About these ads

Aksi

Information

2 responses

7 03 2010
joana

salam sejahter..
saya mau nanya nih,td sore mobil sy mogok akhirnya pulang kerja saya naik bajaj,tp tangan saya tersangkut pd pintu bajaj dan tersobek cukup dalam dan panjang sekitar 4cm,dagingnya smp kelihatan,dan pintu bajaj itu dr seng karat,yang buat saya jd takut dan juga was2 kok selang bbrp jam urat leher sy agak kaku,apakah ini sugesti sj ataukah betulan sy kurang jelas,tp kakak sy menakut2i katanya tdk lbh dr 24 jam kalo berat bisa lgsng meninggal,apakah betul demikian ya?mohon penjelasannya.thx

13 05 2010
penyakitdalam

maaf baru buka blog ini. Untuk berkonsultasi silahkan ke http://doktermuin.wordpress.com.
blog ini sebetulnya sebagai referensi saja.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: