SHIGELLOSIS

10 11 2009

(Disenteri Basiler)
1. Identifikasi
Penyakit bakteri akut yang menyerang usus besar dan bagian distal usus halus ditandai
dengan diare disertai demam, nausea dan kadang-kadang toksemia, muntah, kram dan
tenesmus. Pada kasus-kasus yang khas kotoran mengandung darah dan lendir (disenteri)
sebagai akibat adanya ulcerasi pada mukosa usus, terbentuknya koloni kripte mikroabses
yang konfluen disebabkan oleh invasi organisme, tetapi kebanyakan kasus datang dengan
diare cair. Konvulsi mungkin merupakan kompliksi yang sering terjadi pada anak-anak.
Bakteriemia jarang terjadi. Ada juga kasus ringan dan tanpa gejala. Penyakit akan sembuh
dengan sendirinya rata-rata setelah 4 – 7 hari. Berat ringannya penyakit dan “case fatality
rate” merupakan fungsi dari inang (umur dan status gizi dari inang) serta sero tipe dari
Shigella. Shigella dysenteriae 1 (Shiga bacillus) sering menyebabkan penyakit serius dan
komplikasi berat seperti toksix megakolon dan sindroma uremia hemolitik; angka
kematian rata-rata dari kasus berat mencapai 20% dari kasus yang dirawat dirumah sakit
tahun belakangan ini. Sebaliknya banyak infeksi oleh S. Sonnei menimbulkan penyakit
dengan gejala klinik yang pendek dan hampair tidak dan kematian kecuali pada orang
dengan masalah kekebalan tubuh. Strain tertentu dari S. flexnery dapat menyebabkan
Reactive arthropathy (sindroma Reiter) khususnya pada orang yang secara genetis
mempunyai antigen HLA-B27.
Diagnosa bakteriologis dibuat dengan cara isolasi dari Shigella yang berasal dari tinja atau
apus dubur. Pemeriksaan laboratorium yang cepat dan tepat dengan menggunakan media
yang tepat (ada dua jenis media yaitu low selectivity – Mac Conkey agar dan satu lagi
adalah high selectivity-XLD atau S/S agar) meningkatkan kecermatan isolasi Shigella.
Upaya khusus diperlukan untuk mengisolasi S. dysenteriae tipe 1, karena organisme ini
470
dihalangi pertumbuhannya oleh beberapa media terpilih termasuk S/S agar. Infeksi
biasanya tergabung dengan ditemukannya leukosit dalam jumlah yang sangat banyak
dalam tinja dengan pemeriksaan mikroskopis dari spesimen yang dicat dengan metilin
blue atau gram stain.
2. Penyebab penyakit
Penyebab penyakit adalah genus Shigella yang terdiri dari 4 spesies atau sero grup: grup
A, S. Dysenteriae; group B, S. flexneri; group C, S. boydii; group D, S.sonnei.
Grup A, B, C dan D selanjutnya dibagi dalam 12, 14 dan 18 serotipe dan sub tipe, masingmasing
ditulis dengan bilangan arab dan huruf kecil (contoh S. flexneri 2a). Sebaliknya S.
sonei terdiri dari hanya satu sero tipe. Tingkat virulensi spesifik dari plasmid sangat
menentukan tingkat kemampuan invasif dari Shigella. Dosis yang diperlukan untuk
menimbulkan kesakitan pada manusia cukup rendah yaitu 10 – 100 bakteri, dibuktikan
melalui percobaan pada sukarelawan.
3. Distribusi penyakit
Tersebar diseluruh dunia bahwa shigellosis dipekirakan menyebabkan sekitar 600.000
kematian per tahun diseluruh dunia. Dua per tiga kasus dan yang kebanyakan meninggal
adalah anak-anak umur < 10 tahun. Penyakit ini jarang terjadi pada bayi berusia dibawah
6 bulan. Rata-rata serangan kedua pada anggota keluarga mencapai diatas 40%. Wabah
umumnya terjadi pada kelompok homoseksual; pada kondisi “crowding”; ditempat-tempat
dimana sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan rendah seperti di penjara, tempat
penitipan anak, panti asuhan, rumah sakit jiwa dan pada tempat pengungsi yang padat.
Shigellosis endemis pada daerah iklim tropis maupun iklim sedang;, kasus-kasus yang
dilaporkan hanyalah sebagian kecil saja dari kasus, yang sebenarnya terjadi.
Lebih dari satu sero tipe ditemukan dimasyarakat; infeksi campuran dengan patogen lain
sering terjadi. Pada umumnya S. flexneri, S.Boydii dan S. dysenteriae paling banyak
ditemukan dinegara berkembang sebaliknya S. sonnei paling sering ditemukan dan S.
dysenteriae paling sedikit ditemukan di negara maju.
Shigella yang resisten terhadap multiantibiotik (seperti S. dysenteriae 1) ditemukan di
seluruh dunia dan sebagai akibat pemakaian antibiotika yang tidak rasional.
4. Reservoir
Reservoir utama adalah manusia, wabah yang lama pernah terjadi pada koloni primata.
5. Cara penularan
Cara penularan utama adalah secara langsung atau tidak langsung melalui rute oro fekal
dari penderita dengan gejala atau dari asymptomatic carrier jangka pendek. Penularan
terjadi setelah menelan organisme dalam jumlah yang sangat kecil (10-100). Mereka yang
bertanggung jawab terjadinya penularan penyakit adalah mereka yang tidak memotong
kuku dan tidak mencuci tangan setelah buang air besar. Mereka dapat menularkan
penyakit kepada orang lain secara langsung dengan kontak fisik atau tidak langsung
melalui kontaminasi makanan dengan tinja; air dan susu dapat menjadi sumber penularan
karena terkontaminasi langsung dengan tinja; serangga dapat menularkan organisme dari
tinja ke makanan yang tidak tertutup.
6. Masa inkubasi
471
Biasanya 1 – 3 hari tetapi dapat bervariasi dari 12 – 96 jam sampai dengan satu mingu
untuk S. Dysenteriae 1
7. Masa penularan
Masa penularan berlangsung selama masa akut sampai dengan organisme tidak ditemukan
lagi dalam tinja feces, biasanya sampai dengan 4 minggu setelah sakit. Asymptomatic
carrier dapat menularkan penyakit; status carrier dapat bertahan sampai sebulan atau lebih
lama. Pengobatan dengan antibiotika dapat mengurangi lamanya seseorang sebagai carrier
sampai dengan beberapa hari.
8. Kerentanan dan kekebalan
Setiap orang rentan terhadap infeksi, dengan menelan organisme dalam jumlah kecil
orang sudah bisa sakit; pada daerah endemis lebih sering anak-anak yang diserang
dibandingkan dengan orang dewasa, diantara mereka yang terinfeksi banyak yang tanpa
gejala. Orang tua dan mereka dengan debilitas, dan mereka dengan gizi kurang cenderung
untuk menderita panyakit berat dan kematian. Pemberian makanan tambahan memberikan
proteksi kepada bayi dan anak-anak. Dari hasil penelitian eksperimental pemberian vaksin
hidup sero tipe spesifik melalui oral dan pemberian vaksin parenteral polisaccharide
conjugate terbukti hanya memberi perlindungan jangka pendek (satu tahun) terhadap
infeksi dengan sero tipe homologus.
9. Cara-cara pemberantasan
472
Mengingat masalah Shigellosis sangat berbeda satu sama lain maka Dinas Kesehatan
setempat harus melakukan evaluasi terhadap situasi lokal dan melakukan langkah yang
tepat, guna mencegah penyebaran penyakit ini. Tidaklah mungkin satu tindakan spesifik
tertentu dapat diterapkan pada semua situasi. Secara umum upaya pencegahan yang perlu
dilakukan adalah meningkatkan higiene dan sanitasi, namun hal tersebut sulit diterapkan
karena masalah biaya. Dinas Kesehatan dapat melakukan suatu upaya terorganisir dengan
memberikan penyuluhan kepada masyarakat dengan mempromosikan perilaku hidup
bersih dan sehat seperti mencuci tangan dengan sabun dan air, sebagai cara yang
memegang peranan sangat penting terhadap penurunan tingkat penularan. Yang
mempunyai potensi CFR tinggi adalah infeksi oleh S. dysenteriae 1 yang resisten terhadap
antibiotik. Tindakan untuk mengatasi infeksi oleh S. dysenteriae 1 sama dengan tindakan
yang dilakukan terhadap demam tifoid yaitu menemukan sumber infeksi. Namun
pendekatan ini tidak tepat jika diterapkan pada infeksi S. sonnei yang terjadi didalam
rumah. Penularan common source melalui makanan dan air membutuhkan tindakan
investigasi yang cepat dan tepat dan intervensi segera dilakukan tanpa harus menunggu
hasil spesies apa penyebabnya. Wabah yang terjadi di insitusi memerlukan cara tertentu
untuk mengatasinya termasuk memisahkan penderita dengan orang sehat dan melakukan
pengawasan yang ketat terhadap kebiasaan cuci tangan serta melakukan kultur secara
berulang terhadap spesimen yang diambil dari pasien dan pengunjung. Wabah yang paling
sulit diberantas adalah: kalau terjadi pada kelompok anak-anak; atau kalau terjadi pada
kelompok retardasi mental; dan di daerah sulit air.
Menutup tempat penitipan anak atau panti asuhan yang tertimpa KLB dan memindahan
anak-anak tersebut ketempat lain akan menimbulkan maslaah baru yaitu akan terjadi
penularan ditempat baru tersebut. Oleh karena itu cara ini bukan cara yang tepat untuk
mengatasi KLB/wabah, maka sangat dirasakan perlu adanya vaksin yang efektif yang
dapat memberi perlindungan dalam jangka panjang.
A. Cara-cara pencegahan: Cara pencegahan sama dengan upaya pencegahan terhadap
demam tifoid 9A1-9A10, karena vaksin tidak tersedia dipasaran.
B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya
1) Laporan kepada Dinas Kesehatan setempat: Laporan kasus wajib dilakukan hampir
disemua negara. Kelas 2B (lihat tentang laporan penyakit menular). Mengetahui
dan mengenal terjadinya wabah ditempat perawatan anak secara dini sangatlah
penting.
2) Isolasi: Selama stadium akut, lakukan kewaspadaan enterik karena dalam dosis
kecil sudah dapat menimbulkan infeksi, maka mereka yang telah diketahui
terinfeksi shigellae tidak boleh menjamah makanan atau menangani pasien atau
merawat anak-anak sampai sample tinja atau apus dubur sebanyak 2 kali berturutturut
menunjukkan hasil negatif. Spesimen yang diambil untuk pemeriksaan
berjarak 24 jam satu sama lainnya dan tidak lebih pendek dari 48 jam setelah dosis
antibiotika terakhir. Pasien diberitahukan pentingnya mencuci tangan dengan air
dan sabun setelah buang air besar, cara yang dapat mencegah transmisi Shigella.
3) Disinfeksi serentak: Disinfeksi dilakukan terhadap tinja dan peralatan yang
473
tercemar. Dalam lingkungan masyarakat yang telah menggunakan sistem
pembuangan yang modern, tinja dapat dibuang langsung kedalam sistem
pembuangan tanpa perlu dilakukan disinfeksi terlebih dahulu. Pembersihan
menyeluruh.
4) Karantina : Tidak ada
5) Penatalaksanaan kontak: Apabila memungkinkan mereka yang kontak dengan
pasien shigella dan jatuh sakit dilarang menjamah makanan dan dilarang merawat
anak-anak atau pasien sampai yang bersangkutan tidak diare lagi dan dua spesimen
tinja atau apus dubur menunjukkan hasil negatif (spesimen satu sama lainnya
berjarak paling sedikit 24 jam dan spesimen pertama diambil 48 jam setelah
pengobatan antibiotika dihentikan. Tekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan
sehat, mencuci tangan dengan air dan sabun setelah defekasi dan sebelum
menjamah makanan dan sebelum merawat pasien dan anak-anak.
6) Investigasi kontak dan sumber infeksi: Pencarian dan penemuan pada kasus ringan
dan penderita yang sudah sembuh tidak bermanfaat pada kasus sporadis dan jarang
memberikan kontribusi terhadap upaya penanggulangan wabah. Kultur dilakukan
terhadap “food handler”, para pengunjung dan anak-anak di rumah sakit dan
terhadap orang-orang pada kondisi/situasi lainnya dimana diperkirakan
kemugkinan akan terjadi penularan.
7) Pengobatan spesifik: Berikan cairan infus kepada pasien yang menderita diare dan
dehidrasi (lihat bab kholera 9B7). Antibakteri (seperti TMP-SMX oral,
siprofloksasin atau ofloxacin pada orang dewasa; TMP-SMX oral atau ampisilin
atau asam nalidixic atau ceftriaxone parenteral pada anak-anak) dapat
memperpendek masa sakit dan ekskresi patogen dan meringankan panyakit. Obatobat
tersebut harus digunakan pada situasi tertentu dengan indikasi yang jelas.
Indikasi tersebut antara lain untuk mengurangi beratnya penyakit, untuk
melindungi kontak (misalnya pada panti penitipan anak) dan indikasi
epidemiologis.
Selama 5 dekade terakhir Shigella telah resisten terhadap berbagai antimikroba baru
yang pada awalnya sangat efektif terhadap infeksi Shigella. Multi Drug Resistant
sering terjadi sehingga untuk memilih antimikroba yang tepat perlu dilakukan
pembuatan antibiogram terhadap strain yang diisolasi.
Pemilihan antimikroba yang tepat juga tergantung kepada gambaran resistensi
setempat. Misalnya dibanyak tempat prevalensi Shigella yang resisten terhadap TMPSMX,
ampisilin dan tetrasiklin sangat tinggi sehingga orang beralih ke derivat
fluoroquinolones seperti ciprofloxacin untuk pengobatan lini pertama.
Penggunaan spasmolitika seperti loperamide merupakan kontra indikasi pada anakanak
dan tidak dianjurkan untuk digunakan pada orang dewasa karena akan
memperpanjang lamanya sakit.
Jika pemberian spasmolitika dimaksudkan untuk mengurangi kram dan rasa sakit
harus dibatasi pemberiannya hanya satu atau dua dosis saja dan tidak boleh diberikan
jika tidak diikuti dengan pemberian antibiotika.
C. Penanggulangan wabah
474
1) Segera laporkan kepada Dinkes setempat, bila ditemukan sekelompok penderita
diare akut walaupun belum diketahui penyebabnya.
2) Lakukan investigasi terhadap makanan, air susu yang mungkin tercemar dan
terapkan prinsip-prinsip umum dari sanitasi lingkungan dan kebersihan
perorangan.
3) Pencegahan menggunakan antibiotika tidak dianjurkan
4) Sebar luaskan kepada masyarakat tenang manfaat mencuci tangan dengan air dan
sabun setelah defekasi. Sediakan sabun dan air yang cukup serta kertas tissue di
WC/toilet
D. Implikasi bencana
Sanitasi lingkungan buruk merupakan potensi besar terjadinya KLB shigellosis (lihat
demam typoid)
E. Tindakan Internasional: Manfaatkan Pusat-pusat kerjsama WHO

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: