TULAREMIA ICD-9 O21; ICD-10 A21
(Demam kelinci, Demam lalat-kijang, penyakit Ohara, penyakit Francis)
1. Identifikasi
553
Merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri dengan manifestasi klinis
yang sangat bervariasi tergantung kepada tempat masuknya bakteri dan virulensi dari
bakteri yang menginfeksi. Gejala klinis lebih sering muncul sebagai ulcus yang indolen
ditempat masuknya bakteri disertai dengan pembengkakan kelenjar limfe disekitarnya
(tipe ulseroglanduler). Manifestasi lain dapat berupa infeksi tanpa disertai timbulnya
ulcus, hanya terjadi pembengkakan satu atau beberapa kelenjar limfe disertai dengan rasa
sakit.
Pembengkakan kelenjar limfe ini mengalami supurasi (tipe glanduler). Tertelannya
mikroorganisme karena mengkonsumsi makanan dan minuman yang tercemar dapat
menimbulkan faringitis dengan rasa sakit (dengan atau tanpa terjadi ulserasi), sakit perut,
diare dan muntah (tipe orofaringeal). Jika mikroorganisme masuk kedalam tubuh melalui
inhalasi dapat terjadi pneumonia atau sindroma septikemi primer, jika tidak segera diberi
pengobatan yang tepat, dapat menimbulkan kematian dengan CFR sekitar 30 – 60% (tipe
tifoidal). Mikroorganisme yang masuk melalui darah biasanya menimbulkan penyakit
yang terlokalisir pada paru dan ruangan pleura (tipe pleuropulmoner). Walaupun sangat
jarang sekali, mikroorganisme dapat masuk melalui Sacus conjunctivus dan menimbulkan
konjungtivitis purulenta disertai dengan pembengkakan kelenjar limfe disekitarnya (tipe
okuloglanduler). Dari semua tipe infeksi diatas dapat terjadi komplikasi pneumonia yang
memerlukan pengenalan dan pengobatan secara dini untuk mencegah kematian.
Ada dua biovarians dengan patogenisitas yang berbeda yang dapat menyebabkan penyakit
pada manusia. Organisme yang disebut dengan nama Jellison type A adalah jenis yang
lebih virulen, jika tidak diobati dengan benar dapat menimbulkan kematian dengan CFR
berkisar antara 5 – 15% terutama disebabkan oleh penyakit dengan tipe tifoidal atau
dengan tipe pleuropulmoner. Dengan pengobatan menggunakan antibiotika yang tepat
CFR dapat diturunkan secara bermakna. Biovarian dengan nama Jellison type B,
virulensinya lebih rendah walaupun tidak diobati, CFR-nya rendah. Secara klinis
tularemia sulit dibedakan dengan pes dan dengan penyakit lain seperti infeksi oleh
Stafilokokus dan Streptokokus, Cat Scratch fever, Sporotrichosis oleh karena semua
penyakit yang disebutkan diatas dapat menimbulkan pembengkakan kelenjar limfe yang
bubonik dan pneumonia berat. Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan gejala klinis
dan diagnosa pasti dibuat karena adanya kenaikan titer antibodi spesifik yang muncul
pada minggu kedua sakit. Terjadi reaksi silang dengan infeksi spesies Brucella. Diagnosa
cepat dibuat melalui pemeriksaan spesimen yang diambil dari eksudat ulcus dan aspirat
dari kelenjar limfe dengan tes FA.
Biopsi yang dilakukan untuk tujuan diagnostik harus dilindungi dengan pemberian
antibiotik yang tepat karena tindakan biopsi dapat menimbulkan septikemi. Bakteri
penyebab infeksi dapat diisolasi melalui kultur pada media khusus seperti dengan media
cysteine glucose blood agar atau dengan melakukan inokulasi binatang percobaan dengan
bahan yang diambil dari lesi, darah dan sputum. Untuk menentukan biovarians dilakukan
dengan pemeriksaan reaksi kimiawi. Tipe A memfermentasikan gliserol dan merubah
citrulline menjadi ornithine. Pemeriksaan laboratorium harus dilakukan dengan sangat
hati-hati oleh karena dapat terjadi penularan bahan infeksius melalui udara. Oleh karena
itu identifikasi dengan menggunakan media kultur hanya dilakukan dilaboratorium
rujukan yang sudah sangat berpengalaman dengan fasilitas keamanan yang memadai.
Umumnya diagnosis ditegakkan hanya dengan pemeriksaan serologis.
554
2. Penyebab penyakit
Mikroorganisme penyebab penyakit adalah Francisella tularensis (dulu disebut
Pasteurella tularensis), sejenis kokobasilus yang non motil, berbentuk kecil, gram negatif.
Semua isolat secara serologis homogen dibedakan satu sama lain secara epidemiologis
dan biokemis yaitu menjadi Jellison Type A (F. tularensis biovarian tularensis) dengan
LD50 pada kelinci lebih kecil dari 10 bakteria atau Jellison type B (F. tularensis biovarian
palaearctica) dengan LD50 pada kelinci lebih besar dari 107 bakteria.
3. Distribusi Penyakit
Tularemia tersebar hampir di semua bagian Amerika Utara dan di sebagian besar benua
Eropa, di bekas Uni Soviet, Cina dan Jepang. Di AS penyakit ini ditemukan sepanjang
tahun; insidensi penyakit ini ditemukan lebih tinggi pada orang dewasa dimusim dingin
pada saat musim perburuan kelinci dan pada anak-anak dimusim panas pada saat densitas
vektor berupa kutu dan lalat pada menjangan/kijang meningkat. F. tularensis biovarian
tularensis terbatas ditemukan hanya dibagian utara benua Amerika dan sering ditemukan
pada kelinci (jenis Cottontail, Jack dan Snowshoe), dan biasanya penularan terjadi karena
gigitan kutu binatang tersebut. Sedangkan F. tularensis biovarian palaearctica sering
ditemukan pada mamalia selain kelinci di bagian utara benua Amerika; berbagai strain
ditemukan di Elerasia pada binatang jenis voles, muskrat dan tikus air. Sedangkan di
Jepang ditemukan pada kelinci.
4. Reservoir
Berbagai jenis binatang liar seperti kelinci, hares, voles, muskrats, beavers dan beberapa
jenis binatang domestik dapat berperan sebagai reservoir; begitu juga berbagai jenis kutu
dapat berperan sebagai reservoir, sebagai tambahan telah ditemukan siklus penularan dari
rodentia – nyamuk untuk F. tularensis biovarian palaearctica didaerah Skandinavia,
Baltic dan Rusia.
5. Cara penularan
Berbagai cara penularan telah diketahui antara lain melalui gigitan binatang berkaki
beruas (artropoda) seperti kutu Dermacentor andersoni, kutu anjing D. variabilis,
Anblyomma americanum (the lonestar stick); dan walaupun jarang terjadi, lalat Chrysops
discalis pada kijang/menjangan dapat juga menularkan penyakit ini. Di Swedia nyamuk
Aedes cinerius diketahui dapat menularkan penyakit ini melalui inokulasi kulit, melalui
mukosa konjungtiva dan mukosa orofaring yang terpajan dengan air yang terkontaminasi.
Penularan dapat juga terjadi karena terpajan dengan darah atau jaringan binatang yang
terinfeksi (pada waktu menguliti binatang, memotong daging atau pada waktu melakukan
nekropsi); mengkonsumsi daging atau jaringan binatang yang terinfeksi yang tidak
dimasak dengan sempurna; minum air yang terkontaminasi; inhalasi debu yang
terkontaminasi atau inhalasi partikel dari tumpukan rumput/jerami kering dan padi-padian
yang terkontaminasi. Jarang sekali penularan terjadi melalui gigitan coyote (sejenis
rubah), tupai, musang, babi hutan, kucing atau anjing yang mulutnya tercemar karena
diduga memakan binatang yang terinfeksi. Penularan juga jarang terjadi karena bulu dan
cacar binatang. Jika penularan terjadi karena kecelakaan dilaboratorium biasanya berupa
pneumonia primer dn tularemia tifoidal.
555
6. Masa Inkubasi: Masa inkubasi sangat bergantung pada virulensi daripada
mikroorganisme dan tergantung pada ukuran inokulum. Biasanya berkisar antara 1 – 14
hari, rata-rata 3 – 5 hari.
7. Masa Penularan: Tidak ditularkan langsung dari orang ke orang. Pada penderita yang
tidak diobati mirkoorganisme penyebab penyakit ditemukan didalam darah selama 2
minggu pertama infeksi, dan ditemukan didalam lesi selama satu bulan bahkan terkadang
lebih lama. Lalat mengandung bakteri selama 14 hari dan kutu selama hidup mereka
(sekitar 2 tahun). Daging kelinci yang dibekukan pada suhu –150C (50F) tetap infektif
selama 3 tahun.
8. Kerentanan dan kekebalan: Semua usia rentan terhadap infeksi, setelah sembuh dari
penyakit timbul kekebalan jangka panjang. Namun pernah dilaporkan adanya reinfeksi
pada petugas laboratorium.
9. Cara – cara pemberantasan
A. Cara-cara Pencegahan
1). Berikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menghindari diri terhadap gigitan
kutu, lalat dan nyamuk. Hindari minum air, mandi atau bekerja diperaiaran yang
tidak ditangani dengan baik dimana didaerah tersebut angka infeksi pada binatang
liar sangat tinggi.
2). Pakailah sarung tangan pada saat menguliti binatang terutama kelinci. Masaklah
daging kelinci liar atau binatang rodensia sebelum dikonsumsi.
3). Berlakukan larangan pengapalan antar pulau terhadap hewan atau daging hewan
yang terinfeksi.
4). Vaksinasi intradermal dengan skarifikasi menggunakan vaksin jenis “Live
attenuated” digunakan secara luas dibekas Uni Soviet dan secara terbatas
digunakan dikalangan pekerja dengan risiko penularan di AS.
Vaksin “Live anttenuated” yang dulu pernah digunakan untuk tujuan penelitian
pada petugas laboratorium di AS saat ini tidak lagi tersedia.
5). Pakailah masker, pelindung mata, sarung tangan dan jas laboratorium (Personal
Protection Equipment) dan pergunakan kabinet dengan tekanan negatif pada saat
bekerja dengan kultur F. tularensis.
B. Penanganan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya
1). Laporan kepada instansi kesehatan setempat: Didaerah endemis tertentu di AS dan
di sebagian besar negara di dunia penyakit ini tidak wajib dilaporkan, kelas 3B
(lihat tentang pelaporan penyakit menular)
2). Isolasi: Hati-hati dengan sekret dan discharge dari lesi terbuka, lakukan
kewaspadaan universal
3). Disinfeksi serentak: Lakukan disinfeksi terhadap discharge yang keluar dari ulkus,
kelenjar limfe atau konjungtiva.
4). Karantina: Tidak dilakukan
5). Imunisasi terhadap kontak: Tidak dilakukan
6). Investigasi kontak dan sumber infeksi: Investigasi perlu dilakukan terhadap setiap
kasus untuk menemukan sumber infeksi.
556
7). Pengobatan spesifik: Obat pilihan adalah streptomisin atau gentamisin, diberikan
selama 7 – 14 hari; sedangkan tetrasiklin dan kloramfenikol bersifat bakteriostatik
jika diberikan kurang dari 14 hari, relaps lebih sering terjadi dibandingkan
pengobatan dengan menggunakan streptomisin. Namun telah ditemukan
mikroorganisme virulen yang resisten terhadap streptomisin. Tindakan insisi,
biopsi, aspirasi yang dilakukan untuk mengambil sampel pada kelenjar limfe yang
terinfeksi dapat menyebarkan infeksi. Tindakan ini harus dilindungi dengan
antibiotika yang tepat.
C. Cara-cara Penanggulangan Wabah
Lakukan pelacakan untuk menemukan sumber infeksi yang ada kaitannya dengan
artropoda, binatang lain yang berperan sebagai hospes, air, tanah dan tanaman yang
tercemar. Cara-cara pemberantasan seperti yang disebutkan pada 9A diatas.
D. Implikasi bencana: Tidak ada
E. Tindakan Internasional: Tidak ada
F. Upaya untuk mengatasi Bioterorisme
Tularemia dianggap potensial digunakan untuk melakukan tindaan bioterorisme
terutama jika dilakukan melalui udara (aerosol) seperti halnya pada pes, maka orang
yang menghirup udara yang mengandung tularemia akan mengalami pneumonia
primer. Kasus ini memerlukan diagnosis dini dan pengobatan dini untuk mencegah
kematian. Setiap saat jika ditemukan adanya F. tularensis harus segera dilaporkan
kepada petugas dan petugas keamanan (di AS dilaporkan ke FBI) lebih-lebih kalau
kasus tersebut menggerombol. Laporan ini diperlukan agar bisa segera dilakukan
investigasi.
DEMAM TIFUS
8 11 2009Demam Tifus Wabahi Yang ditularkan oleh kutu ICD-9 080; ICD-10 A75.0
(Louseborne typhus,Typhus exanthematicus, Demam tifus klasik)
1. Identifikasi
Penyakit yang disebabkan oleh rickettsia dengan gejala klinis yang sangat bervariasi.
Penyakit kadangkala muncul mendadak ditandai dengan sakit kepala, menggigil, lelah,
demam dan sakit disekujur tubuh. Timbul bercak dikulit berbentuk makuler pada hari
kelima dan keenam, mulai muncul pada badan bagian atas kemudian menyerbu keseluruh
tubuh, namun penyebaran bercak ini tidak mengenai muka, telapak tangan dan telapak
kaki. Muncul gejala toksemia yang jelas dan penyakit berakhir dengan perbaikan yang
cepat setelah 2 minggu demam.
CFR meningkat dengan meningkatnya umur berkisar antara 10 – 40% jika tidak diobati
dengan pengobatan yang tepat. Gejala klinis ringan tanpa bercak dikullit dapat terjadi
pada penderita anak-anak atau pada orang yang sebelumnya sudah mendapatkan
imunisasi. Penyakit ini dapat menyerang kembali setelah sebelumnya pernah terserang
untuk pertama kalinya (Dikenal dengan penyakit Brill Zinsser, ICD-9 081.1; ICD-10
A75.1); gejala klinis penyakit ini lebih ringan, jarang terjadi komplikasi, CFRnya rendah.
Pemeriksaan laboratorium yang biasanya digunakan untuk konfirmasi diagnosis adalah tes
IF, namun prosedur pemeriksaan ini tidak dapat membedakan antara tifus yang ditularkan
oleh kutu dengan tifus murine (ICD-9 081.0; ICD-10 A75.2), kecuali sera yang akan
dipakai untuk tes IF ini sebelumnya diserap dulu dengan antigen rickettsia terkait. Metode
diagnostik lain yang dipakai adalah EIA, PCR, pengecatan jaringan dengan metode
immunohistochemical, pemeriksaan CF dengan group specific, atau washed type specific
rickettsial antigen, atau dengan tes netralisasi toksin. Pemeriksaan antibodi biasanya
memberi hasil positif pada minggu kedua. Pada penyakit akut antibodi yang ditemukan
adalah IgM dan pada penyakit Brill-Zinsser adalah IgG.
2. Penyebab penyakit: – Rickettsia prowazekii.
3. Penyebaran penyakit
Penyakit ini ditemukan terutama didaerah dingin dengan sanitasi yang jelek dan kepadatan
kutu sebagai vektor sangat tinggi. Wabah yang besar dapat terjadi pada waktu terjadi
peperangan dan pada saat terjadi kelaparan. Fokus-fokus endemis ditemukan tersebar
didaerah pegunungan Mexico, Amerika tengah dan selatan, Afrika bagian tengah dan
timur dan dibeberapa negara di Asia.
Di AS KLB tifus yang ditularkan oleh kutu terakhir dilaporkan terjadi pada tahun 1921.
Rickettsia ini ditemukan sebagai penyakit zoonosis pada tupai terbang (Glaucomys
volans). Secara serologis terbukti bahwa manusia tertulari dari sumber ini kemungkinan
melalui gigitan kutu tupai terbang. Kelompok kasus di AS dilaporkan dari Indiana,
California, Illinois, Ohio, Tennesse dan West Virginia.
4. Reservoir: Manusia berperan sebagai reservoir dan berperan dalam mempertahankan
siklus penularan pada periode antar wabah. Walaupun tupai terbang bukan sebagai sumber
utama penularan namun beberapa kejadian sporadis dikaitkan dengan binatang ini.
564
5. Cara-cara penularan
Kutu badan, Pediculus humanus corporis yang mengisap darah penderita akut akan
terkena infeksi kemudian dapat menularkan kepada orang lain. Penderita penyakit Bill-
Zinsser dapat menginfeksi kutu dan dapat berperan sebagai fokus terjadinya KLB
didaerah dimana densitas kutu tinggi. Kutu yang terinfeksi akan mengeluarkan rickettsia
melalui kotorannya, biasanya kutu ini mengeluarkan kotoran pada saat mereka menghisap
darah. Orang terkena infeksi oleh karena secara tidak sengaja menggosok kulitnya yang
terkena kotoran kutu atau terinfeksi karena membunuh kutu yang sedang menghisap
darah. Rickettsia masuk melalui luka gigitan kutu atau melalui abrasi kulit. Inhalasi udara
yang mengandung pertikel kotoran kutu yang terinfeksi dapat juga menyebabkan infeksi.
Penularan oleh tupai terbang diduga karena gigitan kutu binatang tersebut, namun hal ini
belum dibuktikan kebenarannya.
6. Masa inkubasi: – Antara 1 – 2 minggu rata-rata 12 hari.
7. Masa penularan: Penyakit ini tidak ditularkan langsung dari orang ke orang. Penderita
dapat menularkan penyakit kepada kutu yang menghisap darah mereka pada saat penderita
mengalami demam dan sekitar 2 – 3 hari setelah suhu badan kembali normal. Kutu yang
terinfeksi akan mengeluarkan rickettsia dalam kotorannya 2 – 6 hari setelah menghisap
darah. Kutu dapat segera menjadi infektif jika pada saat sedang menggigit orang lain kutu
tersebut dibunuh. Kutu biasanya mati 2 minggu setelah terinfeksi dan rickettsia dapat
bertahan dalam tubuh kutu yang mati sampai berminggu-minggu.
8. Kerentanan dan kekebalan: Semua orang rentan terhadap penyakit ini. Satu serangan
dapat menimbulkan kekebalan yang dapat bertahan lama.
9. Cara-cara pemberantasan
A. Upaya pencegahan
1). Di daerah yang penduduknya hidup dalam lingkungan dimana densitas kutunya
tinggi, taburkan bubuk insektisida yang punya efek residual pada pakaian dan pada
tubuh orang yang diduga mengandung kutu. Lakukan dengan interval yang tepat.
Insektisida yang dipakai hendaknya jenis yang efektif untuk membunuh kutu
setempat.
2). Perbaiki kondisi kesehatan lingkungan dengan fasilitas air yang mencukupi untuk
mencuci pakaian dan mandi.
3). Lakukan tindakan profilaktik terhadap mereka yang tinggal didaerah risiko tinggi
dengan menaburkan insektisida yang mempunyai efek residual pada pakaian atau
dengan cara impregnasi.
B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar
1). Laporan kepada institusi kesehatan setempat: Demam tifus yang ditularkan oleh
kutu sesuai dengan anjuran WHO merupakan penyakit yang wajib dilaporkan,
Kelas 1A (lihat tentang laporan penyakit menular)
2). Isolasi: Tindakan isolasi tidak perlu dilakukan kalau sudah dilakukan upaya
pemberantasan kutu dengan benar yaitu terhadap pasien, pakaian, lingkungan
tempat tinggal dan terhadap kontak.
565
3). Disinfeksi serentak: Taburkan bubuk insektisida pada pakaian dan tempat tidur
penderita dan kontak. Cucilah pakaian dan sprei yang digunakan oleh penderita.
Kutu cenderung menjauhi suhu tubuh yang tinggi dan suhu tubuh yang dingin,
mereka cenderung mencari tubuh yang ditutupi pakaian dengan suhu normal (lihat
bab 9A1, diatas).
4). Karantina: Mereka yang tubuhnya mengandung kutu dan terpajan dengan
penderita tifus harus dikarantina selama 15 hari setelah badannya ditaburi dengan
insektisida dengan efek residual.
5). Penanganan kontak: Semua kontak harus diamati terus menerus selama 2 minggu.
6). Investivigasi kontak dan sumber infeksi: segala upaya harus dilakukan untuk
melacak sumber penularan.
7). Pengobatan spesifik: Pada saat KLB pemberian doksisiklin dosis tunggal 200mg
biasanya sudah cukup untuk menyembuhkan penderita. Pemberian tetrasiklin atau
kloramfenikol dengan dosis awal 2 – 3 gram diikuti dengan dosis 1 – 2 gram/hari
dibagi dalam 4 dosis sampai penderita tidak demam lagi (biasanya 2 hari)
ditambah 1 hari. Jika mendapatkan penderita yang diduga tifus dengan penyakit
berat, segera lakukan pengobatan tanpa harus menunggu konfirmasi hasil
laboratorium.
C. Upaya penanggulangan wabah
Upaya yang dilakukan secara cepat menanggulangi KLB tifus adalah dengan cara
menaburkan insektisida dengan efek residual terhadap seluruh kontak. Jika disuatu
daerah diketahui bahwa penyebaran kutu sangat luas maka lakukan tindakan
penaburan insektisida dengan efek residual secara sistematik terhadap seluruh anggota
masyarakat. Pemberian pengobatan yang tepat terhadap penderita membantu
mencegah penyebaran penyakit.
D. Implikasi bencana
Ditempat penampungan pengungsi, ditempat dimana orang banyak berkumpul dapat
terjadi KLB tifus jika didaerah tersebut adalah daerah endemis dengan densitas kutu
yang tinggi.
E. Pengukuran Internasional
1). Negara yang terjangkit demam tifus yang ditularkan kutu di daerah yang tadinya
tidak ada kasus, wajib melaporkan kepada WHO secepat mungkin.
2). Wisatawan mancanegara: Tidak satupun negara didunia yang mewajibkan para
wisatawan untuk mendapatkan imunisasi sebelum memasuki negara tersebut.
3). Tifus yang ditularkan oleh kutu termasuk didalam grafik penyakit dibawah
Surveilans WHO. Manfaatkan pusat pusat kerjasama WHO.
Komentar : 2 Komentar »
Kategori : Demam Tifus Wabahi Yang ditularkan oleh kutu
YERSINIOSIS
8 11 2009YERSINIOSIS ICD-9 D27.8
YERSINIOSIS INTESTINAL ICD-10 A04.6
YERSINIOSIS EKSTRA INTESTINAL ICD-10 A28.2
1. Identifikasi
Merupakan penyakit enterik akut yang disebabkan oleh bakteri dengan gejala yang khas
berupa diare akut disertai dengan febris (terutama pada anak usia muda), enterokolitis,
limfadenitis akut pada mesenterium yang gejalanya mirip dengan appendicitis (terutama
pada anak usia lebih tua dan orang dewasa). Gejala lain berupa eritema nodosa yang
merupakan komplikasi penyakit ini (10% dari penderit dewasa terutama wanita), arthritis
pasca infeksi dan dapat juga terjadi infeksi sistemik. Bakteri penyebab adalah salah satu
dari dua jenis yaitu Yersenia enterocolitica atau Y. pseudotuberculosis. Diare disertai
dengan darah dilaporkan terjadi pada ¼ penderita dengan Yersenia enteritis. Infeksi oleh
Y. enterocolitica dan Y. pseudotuberculosis menimbulkan penyakit dengan gejala klinis
seperti yang diuraikan diatas dan sebagian besar penderita yang dilaporkan disebabkan
oleh Y. enterocolitica. Sedangkan Y. pseudotuberculosis terutama sebagai penyebab
adenitis mesenterika, di Jepang bakteri ini dilaporkan menyebabkan sindroma enteritis
pada anak (Izumi fever).
Diagnosa ditegakkan biasanya dengan pembuatan kultur dari spesimen tinja. Media
selektif yang digunakan adalah Cefsulodin Irgasan Novobiocin (CIN), media ini sangat
selektif untuk digunakan jika kita mencurigai terjadinya infeksi oleh Yersenia. Dengan
media ini yersenia dapat diidentifikasi dalam waktu 24 jam pada suhu 320C (89.60F) tanpa
dilakukan pengayaan dingin (cold enrichment). Untuk mencegah terjadinya pertumbuhan
flora usus, organisme ini dapat ditangkap dengan menggunakan media enterik biasa.
581
Pengayaan dingin dalam larutan garam penyangga pada suhu 40C (390F) selama 2 – 3
minggu dapat dipakai untuk menseleksi bakteri ini. Namun sensitivitas dari teknik ini
hanya dapat mengidentifikasi sebagian kecil saja mikroorganisme lain sebagai penyebab
penyakit dengan gejala klinis yang tidak jelas. Yersinia dapat diisolasi dari spesimen darah
dengan menggunakan kultur media darah standard yang tersedia dipasaran. Diagnosa
serologis dilakukan dengan tes aglutinasi dan Elisa namun pemakaiannya terbatas hanya
untuk tujuan riset.
2. Penyebab penyakit
Penyebab penyakit adalah basil Gram–negative Y. pseudotuberculosis yang terdiri dari 6
serotipe dan 4 subtipe; lebih dari 90% dari infeksi yang terjadi pada manusia dan binatang
disebabkan oleh grup O strain I. Y. enterocolitica mempunyai 50 serotipe dan 5 biotipe
dan sebagian besar adalah non patogenik. Strain patogenik pada manusia biasanya
pyrazinamidase negative strain patogenik ini antara lain termasuk dalam serotipe O3, O8,
O9 dan O5, 27 dengan biotipe 1, 2 3 dan 4. Serotipe yang menimbulkan penyakit sebaran
geografisnya berbeda satu sama lain. Misalnya tipe O3, O9 dan O5, 27 ditemukan di
Eropa. Strain tipe O8 menyebabkan KLB di Amerika Serikat, namun O3 muncul sebagai
serotipe yang paling sering ditemukan I AS pada tahun 1990 an.
3. Distribusi penyakit
Penyakit ini tersebar diseluruh dunia Y. pseudotuberculosis pada mulanya adalah penyakit
zoonotik pada burung dan mamalia liar maupun yang domestik, manusia merupakan
hospes insidental. Y. enterocolitica ditemukan hampir pada semua binatang tanpa
menimbulkan gejala klinis. Sumber penularan utama adalah daging babi, oleh karena
faring babi sarat dengan koloni Y. enterocolitica. Sejak tahun 1960-an, Yerseniae
diketahui sebagai penyebab gastroenteritis (sekitar 1 – 3% untuk daerah tertentu) dan
sebagai penyebab limfadenitis mesenterika. Sekitar 2/3 infeksi Y. enterocolitica terjadi
pada bayi dan anak-anak; sedangkan ¾ dari Y. pseudotuberculosis menyerang mereka
yang berusia 5 – 20 tahun. Kasus pada manusia timbul karena tertulari melalui binatang
peliharaan terutama tertulari dari anak anjing dan anak kucing yang sakit. Angka isolasi
yang tinggi dari bateri ini dilaporkan terutama pada musim dingin dinegara subtropis
seperti Eropa (terutama Skandinavia), Amerika Utara dan negara subtropis Amerika
Selatan. Media penularan KLB yang disebabkan oleh Y. enterocolitica antara lain yang
pernah dilaporkan adalah tahu, jeroan babi. Di AS susu pernah dilaporkan sebagai media
penularan terjadinya KLB. KLB yang terjadi setelah mengkonsumsi susu yang sudah
dipasteurisasi, diduga kontaminasi terjadi pada pasteurisasi. Penelitian yang dilakukan di
Eropa menunjukkan bahwa kasus-kasus yang muncul disebabkan karena mengkonsumsi
daging babi mentah atau yang tidak dimasak dengan sempurna.
Oleh karena 20% dari infeksi pada anak-anak usia lebih tua dan orang dewasa mirip
dengan appendecitis maka seringkali KLB baru diketahui setelah terjadinya peningkatan
tindakan appendectomy didaerah tertentu.
4. Reservoir
Binatang merupakan reservoir utama dari Yersenia. Babi adalah reservoir utama dari Y.
enterocolitica yang patogenik. Pada musim dingin babi sering berperan sebagai Carrier
tanpa gejala, dimana pada faring penuh dengan koloni Yersenia. Y. pseudotuberculosis
tersebar pada berbagai spesies burung dan mamalia terutama pada rodensia dan mamalia
kecil lainnya.
582
5. Cara penularan
Cara penularan adalah melalui rute orofekol karena mengkonsumsi makanan dan
minumam yang terkontaminasi oleh manusia atau binatang yang terinfeksi. Y.
enterocolitica telah diisolasi dari berbagai jenis bahan makanan; namun jenis yang
patogenik biasanya ditemukan pada daging babi mentah dan produk makanan yang dibuat
dari daging babi. Di AS makanan yang berasal dari jeroan babi paling sering menjadi
sumber infeksi. Kasus-kasus yang muncul di Eropa dihubungkan dengan pemberian
daging babi mentah kepada bayi. Berbeda dengan penyakit-penyakit lain yang ditularkan
melalui makanan maka Y. enterocolitica dapat berkembang biak dalam suhu rendah
didalam lemari es dan dalam kondisi mikroaerofilik. Oleh karena itu risiko terinfeksi oleh
Y. Enterocolitica meningkatt apabila daging yang setengah matang yang tidak dikelola
dengan baik disimpan didalam kantong plastik. Y. enterocolitia, pernah ditemukan
dibadan air yang tidak ada Eschrichia coli nya. Infeksi nosokomial terjadi karena
memakai darah yang disimpan dalam lemari pendingin dari donor darah penderita
asimptomatik atau yang menderita penyakit saluran pencernaan ringan.
6. Masa inkubasi: Masa inkubasi berlangsung sekitar 3 – 7 hari umumnya 10 hari
7. Masa penularan: Infeksi sekunder jarang terjadi. Begitu muncul gejala klinis maka
didalam tinja penderita segera ditemukan mikroorgaisme, biasanya berlangsung selama 2
– 3 minggu. Penderita yang tidak diobati akan mengeluarkan bakteri melalui tinja selama
2 –3 bulan. Carrier tanpa gejala yang berkelanjutan terjadi pada anak-anak dan orang
dewasa.
8. Kerentanan dan kekebalan
Gejala diare oleh karena gastroenterocolitis lebih berat pada penderita anak-anak,
sedangkan artritis pasca infeksi lebih berat gejalanya pada penderita dewasa muda dan
dewasa. Tidak ada perbedaan jenis kelamin pada penderita. Artritis reaktif dan Sindroma
Reiter cenderung terjadi pada orang yang secara genetik mempunyai HLA-B27.
Septikemia terjadi pada penderita dengan kelebihan besi pada darahnya (misalnya
hemokromatosis) atau pada mereka dengan penyakit dan terapi yang menyebabkan
terjadinya imunosupresi.
9. Cara-cara pemberantasan
A. Cara-cara pencegahan
1). Siapkanlah makanan dengan cara-cara yang saniter, hindari mengkonsumsi daging
babi mentah dan susu yang tidak dipasteurisasi. Lakukan iradiasi terhadap daging,
cara ini sangat efektif untuk membunuh bakteri.
2). Cucilah tangan dengan baik sebelum makan dan sebelum menjamah makanan
terutama setelah menjamah daging babi mentah atau setelah bontak dengan
binatang.
3). Lindungi sumber air dari kotoran binatang dan manusia; lakukan upaya untuk
pengamanan sumber air tersebut.
4). Lakukan pengawasan terhadap rodentia dan burung terhadap kemungkinan
terinfeksi oleh Y. pseudotuberculosis
5). Buanglah kotoran manusia dan binatang dengan cara-cara yang saniter
583
6). Pada waktu menyembelih babi, pisahkan segera kepala dan leher babi dari daging
babi. Hal ini untuk mencegah terjadinya kontaminsai daging babi oleh Yersenia
yang terdapat pada faring babi.
B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya
1). Laporan kepada institusi kesehatan setempat. Kasus wajib dilaporkan di sebagian
besar negara bagian di AS dan di sebagian besar negara di dunia, kelas 2B (lihat
tentang pelaporan penyakit menular).
2). Isolasi: Lakukan upaya kewaspadaan enterik pada waktu merawat penderita di
rumah sakit. Mereka yang menderita diare dilarang menangani makanan, merawat
penderita dan dilarang melakukan pekerjaan yang ada kaitannya dengan mengasuh
bayi.
3). Disinfeksi serentak : disinfeksi dilakukan terhadap tinja. Di negara yang sistem
pembuangnnya baik, tinja dapat dibuang langsung masuk kedalam sistem
pmbuangan tersebut (Sewage system) tanpa perlu dilakukan disinfeksi terlebih
dulu.
4). Karantina: Tidak perlu
5). Imunisasi terhadap kontak: Tidak perlu
6). Investigasi terhadap kontak dan sumbaer infeksi: Lakukan investigasi dan
pencarian kasus-kasus yang tidak dilaporkan. Pecarian carrier diantara mereka
yang kontak dengan penderita disarankan apabila KLB yang terjadi diduga karena
penularan dengan cara “common source”
7). Pengobatan spesifik: Organisme ini umumnya peka terhadap semua jenis
antibiotika kecuali terhadap penisilin dan derivat semi sintetisnya. Pemberian
antibiotika kepada penderita dengan gejala gastrointestinal cukup membantu.
Antibiotika harus diberikan kepada penderita septikemia dan penderita dengan
gejala-gejala invasive. Antibiotika yang baik untuk Y. enterocolitica adalah derivat
aminoglycosides (untuk septicemia saja) dan TMP–SMX. Derivat quinolones yang
baru seperti Ceprofloxacin juga cukup efektif. Y. enterocolitica dan Y.
pseudotuberculosis umumnya sensitif terhadap tetrasiklin.
C. Upaya penanggulangan wabah
1). Jika ditemukan penderita gastroenteritis atau kasus appendecitis dalam jumlah
yang cukup banyak segera laporkan kepada instansi kesehatan setempat walaupun
diagnosanya belum tahu.
2). Lakukan investigasi terhadap kondisi sanitasi lingkungan secara umum dan
selidiki terhadap kemungkinan terjadinya penularan dengan cara “common
source”. Berikan perhatian khusus terhadap kemungkinan penderita
mengkonsumsi daging babi atau tercemarnya makanan yang akan dikonsumsi oleh
daging babi mentah atau yang tidak dimasak dengan sempurna. Perhatikan juga
terhadap kemungkinan terjadinya kontak dengan binatang seperti anjing, kucing
dan binatng peliharaan lainnya.
D. Implikasi bencana: Tidak ada
E. Tindakan Internasional: Tidak ada
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : YERSINIOSIS