FLU BURUNG

4 11 2009

Definisi
Flu burung (Avian influenza) adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh
virus yang pada umumnya menyerang unggas dan dapat juga menular dari unggas
ke manusia.
Penyebab
Virus influenza tipe A sub-tipe H5N1
Cara Penularan
Penularan penyakit ini kepada manusia dapat melalui:
a. Binatang: kontak langsung dengan unggas yang sakit atau produk unggas yang
dakit
b. Lingkungan: udara atau peralatan yang tercemar virus tersebut baik yang
berasal dari tinja atau sekret unggas yang terserang virus flu burung (AI)
c. Manusia: sangat terbatas dan tidak efisien (ditemukannya beberapa kasus
dalam kelompok / cluster)
d. Konsumsi produk unggas yang tidak dimasak dengan sempurna mempunyai
potensi penularan virus flu burung.
Gambaran klinis
Masa inkubasi rata-rata 3 (1 – 7 hari). Masa penularan pada manusia adalah 1 hari
sebelum dan 3 – 5 hari setelah gejala timbul, sedangkan penularan pada anak
dapat mencapai 21 hari. Gejala yang ditimbulkan sama seperti flu biasa, ditandai
dengan demam mendadak (suhu • 38oC), batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak,
sakit kepala, malaise, muntah, diare dan nyeri otot.
Diagnosis
1. Tersangka flu burung
Apabila demam (suhu • 38oC) disertai satu atau lebih gejala sebagai berikut:
- Batuk
- Sakit tenggorokan
- Pilek
- Sesak nafas,

Disertai satu atau lebih dari pajanan di bawah ini dalam 7 hari sebelum
timbulnya gejala :
- Kontak erat (dalam jarak 1 meter), seperti merawat, berbicara, atau
bersentuhan dengan pasien tersangka (suspek), probabel atau kasus H5N1
yang sudah konfirmasi.
- Terpajan (misalnya memegang, menyembelih, mencabuti bulu, memotong,
mempersiapkan untuk konsumsi) dengan ternak ayam, unggas liar, bangkai
unggas atau terhadap lingkungan yang tercemar oleh kotoran unggas itu
dalam wilayah dimana infeksi dengan H5N1 pada hewan atau manusia
telah dicurigai atau dikonfirmasi dalam satu bulan terakhir.
- Mengkonsumsi produk unggas mentah atau yang tidak dimasak dengan
sempurna di wilayah yang dicurigai atau dipastikan terdapat hewan atau
manusia yang terinfeksi H5N1 dalam satu bulan terakhir.
- Kontak erat dengan binatang lain (selain ternak unggas atau unggas lain),
misalnya kucing atau babi yang telah dikonfirmasi terinfeksi H5N1.
- Memegang/menangani sampel (hewan atau manusia) yang dicurigai mengandung
virus H5N1 dalam suastu laboratorium atau tempat lainnya
- Ditemukan leukopenia (dibawah nilai normal: 5000 – 10.000).
- Ditemukan titer antibodi terhadap H5 dengan pemeriksaan uji HI menggunakan
eritrosit kuda atau uji ELISA untuk influenza A tanpa sub-tipe.
- Foto toraks menunjukkan pneumonia yang cepat memburuk pada serial
foto.
2. Penderita (konfirmasi) flu burung
Apabila pada tersangka disertai satu dari hasil positif berikut ini yang
dilaksanakan di laboratorium influenza nasional, regional atau internasional
yang hasil pemeriksaan H5N1nya diakui oleh WHO sebagai konfirmasi:
- Isolasi virus influenza A/H5N1 positif
- Hasil PCR influenza A/H5N1 positif
- Peningkatan • 4 kali lipat titer antibodi netralisasi untuk H5N1 dari spesimen
konvalesen dibandingkan dengan spesimen akut (diambil 7 hari setelan
onset penyakit), dan titer antibodi netralisasi harus pula • 1/80).

- Titer antibodi mikronetralisasi H5N1 • 1/80 pada spesimen serum yang
diambil pada hari ke • 14 setelah onset penyakit disertai hasil postif hasil
uji serologis lain, misalnya titer HI sel darah merah kuda • 1/160 atau
western blot specific H5 positif.
Penatalaksanaan
a. Tersangka flu burung diberikan oseltamivir 75 mg 2 x sehari selama 5 hari.
Dosis anak sesuai dengan berat badan (usia > 1 tahun : 2mg/kgBB), lalu
dirujuk ke rumah sakit rujukan flu burung
b. Pemberian tersebut harus mengikuti sistem skoring yang telah disepakati (lihat
buku Pengendalian Flu Burung dan Penggunaan Oseltamivir di Puskesmas,
2006)
c. Setiap pemberian oseltamivir harus berdasarkan resep dokter dan dicatat dan
dilaporkan sesuai dengan format yang tersedia.
d. Oseltamivir tidak direkomendasikan untuk profilaksis dan pemberiannya oleh
dokter.
Pencegahan
Upaya pencegahan penularan dilakukan dengan cara menghindari bahan yang
terkontaminasi tinja dan sekret unggas, dengan tindakan sebagai berikut:
- Setiap orang yang berhubungan dengan bahan yang berasal dari saluran cerna
unggas harus menggunakan pelindung (masker, kacamata renang)
- Bahan yang berasal dari saluran cerna unggas seperti tinja harus ditatalaksana
dengan baik (ditanam / dibakar) agar tidak menjadi sumber penularan bagi
orang sekitarnya
- Alat-alat yang dipergunakan dalam perternakan harus dicuci dengan
desinfektan
- Kandang dan tinja tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan
- Mengkonsumsi daging ayam yang telah dimasak paling kurang pada suhu
80oC selama 1 menit, sedangkan telur unggas perlu dipanaskan pada suhu
64oC selama 5 menit
- Memelihara kebersihan lingkungan
- Menjaga kebersihan diri
- Bagi yang tidak berkepentingan, dilarang memasuki tempat peternakan
- Apabila sedang terkena influenza dilarang memasuki tempat peternakan.
- Jika sedang bercocok tanam dengan menggunakan pupuk kandang diharuskan
menggunakan sarung tangan dan masker
- Setiap pekerja peternakan, pemotong unggas dan penjamah unggas yang
terkena influenza segera ke puskesmas atau pelayanan kesehatan lainnya.

About these ads

Aksi

Information

One response

15 12 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: