KERACUNAN MAKANAN DAN INSEKTISIDA

3 11 2009

1. BOTULISMUS
Kompetensi : 3B
Laporan Penyakit : 1903 ICD X : T.61-T.62
Definisi
Botulismus merupakan keracunan akibat makanan (tidak selalu makanan kaleng)
yang tercemar toksin yang dihasilkan oleh C.botulinum. Keracunan ini
ditandai oleh kelainan neuromuskuler, jarang terjadi diare. Kematian sekitar
65%.
Penyebab
Makanan yang tercemar toksin yang dihasilkan oleh C.botulinum.
Gambaran klinik
– Inkubasi penyakit ini kira-kira 18 – 36 jam, namun dapat beragam dari
beberapa jam sampai 3 hari.
– Tanda awal adalah rasa lelah dan lemas, serta gangguan penglihatan.
– Diare lebih sering tidak ada.
– Gejala neurologi seperti disartria dan disfagia dapat menimbulkan
pneumonia aspirasi.
– Otot-otot tungkai, lengan dan badan lemah.
– Sementara itu daya rasa (sensoris) tetap baik, dan suhu tidak meningkat.
– Diagnosis banding yang perlu dipikirkan adalah poliomielitis, miastemia
gravis, dan ensefalitis virus.
Diagnosis
Riwayat konsumsi makanan tertentu.
Penatalaksanaan
– Tindakan penanggulangan:
1. Bila perlu, berikan pernapasan buatan.
2. Jika tidak muntah, usahakan untuk muntah.
Jika perlu, lakukan bilas lambung.

- Bila terdapat tanda-tanda syok pasang infus glukosa 5% dan kalau perlu
lakukan pernafasan buatan.
– Pengobatan spesifik, terutama bila timbul gejala dengan antitoksin.
– Penderita harus segera dirujuk ke rumah sakit
2. KERACUNAN BONGKREK
Kompetensi : 3B
Laporan Penyakit : 1903 ICD X : T.61-.T62
Definisi
Racun bongkrek dihasilkan oleh Bacillus cocovenevans, yaitu kuman yang tumbuh
dari bongkrek yang diproses kurang baik. Pertumbuhan kuman ini dapat dihambat
oleh suasana asam (diolah dengan daun calincing).
Penyebab
Keracunan tempe bongkrek disebabkan oleh toksoflavin dan asam bongkrek yang
dihasilkan oleh Pseudomonas cocovenans yang dikenal juga sebagai bakteri asam
bongkrek. Toksin tersebut dihasilkan dalam media yang mengandung ampas
kelapa.
Gambaran Klinis
– Gejala timbul 4 – 6 jam setelah makan tempe bongkrek yaitu berupa mual dan
muntah.
– Penderita mengeluh sakit perut, sakit kepala dan melihat ganda (diplopia).
– Penderita lemah, gelisah dan berkeringat dingin kadang disertai gejala syok.
– Pada hari ke-3 sklera menguning, pembesaran hati dan urin keruh dengan
protein (+).
Diagnosis
Riwayat konsumsi tempe bongkrek.
Penatalaksanaan
– Penderita harus dirujuk ke rumah sakit, sementara itu bila penderita masih
sadar usahakan mengeluarkan sisa makanan.
– Berikan norit 20 tablet (digerus dan diaduk dengan air dalam gelas) sekaligus,
dan ulangi 1 jam kemudian.
– Kalau perlu atasi syok dengan infuse glukosa 5 % dan pernapasan buatan.

- Tidak ada antidotum spesifik.
– Penderita dirangsang secara mekanis agar muntah. Bila tidak berhasil
lakukan bilas lambung di rumah sakit.
3. KERACUNAN INSEKTISIDA
Semua insektisida bentuk cair dapat diserap melalui kulit dan usus dengan
sempurna. Jenis yang paling sering menimbulkan keracunan di Indonesia
adalah golongan organofosfat dan organoklorin. Golongan karbamat efeknya
mirip efek organofosfat, tetapi jarang menimbulkan kasus keracunan.
Masih terdapat jenis pestisida lain seperti racun tikus (antikoagulan dan seng
fosfit) dan herbisida (parakuat) yang juga sangat toksik. Kasus keracunan
golongan ini jarang terjadi. Penatalaksanaannya dapat dilihat dalam “ Pedoman
Pengobatan Keracunan Pestisida” yang diterbitkan oleh Bagian Farmakologi
FKUI.
a. KERACUNAN GOLONGAN ORGANOFOSFAT
Kompetensi : 3B
Laporan Penyakit : 1902 ICD X : T.50.-T.51
Definisi
Golongan organofosfat bekerja selektif, tidak persisten dalam tanah, dan tidak
menyebabkan resistensi pada serangga. Golongan organofosfat bekerja dengan
cara menghambat aktivitas enzim kolinesterase, sehingga asetilkolin tidak
terhidrolisa.
Penyebab
Keracunan pestisida golongan organofosfat disebabkan oleh asetilkolin yang
berlebihan, mengakibatkan perangsangan terus menerus saraf muskarinik dan
nikotinik.
Gambaran klinik
Gejala klinis keracunan pestisida golongan organofosfat pada:
1. Mata; pupil mengecil dan penglihatan kabur
2. Pengeluaran cairan tubuh; pengeluaran keringat meningkat, lakrimasi, salviasi
dan juga sekresi bronchial.
3. Saluran cerna; mual, muntah, diare dan sakit perut.
4. Saluran napas; batuk, bersin, dispnea dan dada sesak.
5. Kardiovaskular; bradikardia dan hipotensi.

6. Sistem saraf pusat; sakit kepala, bingung, berbicara tidak jelas, ataksia, demam,
konvulsi dan koma.
7. Otot-otot; lemah, fascikulasi dan kram.
8. Komplikasi yang dapat terjadi, antara lain edema paru, pernapasan berhenti,
blockade atrioventrikuler dan konvulsi.
Diagnosis
Riwayat kontak dengan insektisida golongan organofosfat
Penatalaksanaan
Keracunan akut :
Tindakan gawat darurat:
1. Buat saluran udara.
2. Pantau tanda-tanda vital.
3. Berikan pernapasan buatan dengan alat dan beri oksigen.
4. Berikan atropin sulfat 2 mg secara i.m, ulangi setiap 3 – 8 menit sampai gejala
keracunan parasimpatik terkendali.
5. Berikan larutan 1g pralidoksim dalam air secara i.v, perlahan-lahan, ulangi
setelah 30 menit jika pernapasan belum normal. Dalam 24 jam dapat diulangi
2 kali. Selain pralidoksim, dapat digunakan obidoksim (toksogonin).
6. Sebelum gejala timbul atau setelah diberi atropine sulfat, kulit dan selaput
lendir yang terkontaminasi harus dibersihkan dengan air dan sabun.
7. Jika tersedia Naso Gastric Tube, lakukan bilas lambung dengan air dan berikan
sirup ipeca supaya muntah.
Tindakan umum:
1. Sekresi paru disedot dengan kateter.
2. Hindari penggunaan obat morfin, aminofilin, golongan barbital, golongan
fenotiazin dan obat-obat yang menekan pernapasan.
Keracunan kronik:
Jika keracunan melalui mulut dan kadar enzim kolinesterase menurun, maka
perlu dihindari kontak lebih lanjut sampai kadar kolinesterase kembali normal.

b. KERACUNAN ORGANOKLORIN
Kompetensi : 3B
Laporan Penyakit : 1302 ICD X : T.50.-T.51
Definisi
Pestisida golongan organoklorin pada umumnya merupakan racun perut dan racun
kontak yang efektif terhadap larva, serangga dewasa dan kadang-kadang juga
terhadap kepompong dan telurnya. Penggunaan pestisida golongan organoklorin
makin berkurang karena pada penggunaan dalam waktu lama residunya persisten
dalam tanah, tubuh hewan dan jaringan tanaman.
Penyebab
Pestisida golongan organoklorin
Gambaran klinis
– Gejala keracunan turunan halobenzen dan analog, terutama muntah, tremor
dan konvulsi.
– Pada keracunan akut melalui mulut disebabkan oleh 5 g DDT akan menyebabkan
muntah-muntah berat setelah 0,5 – 1 jam, selain kelemahan dan mati rasa pada
anggota badan yang terjadi secara bertahap, rasa takut, tegang dan diare juga
dapat terjadi.
– Dengan 20 g DDT dalam waktu 8 – 12 jam kelopak mata akan bergerak-gerak
disetai tremor otot mulai dari kepal dan leher, selanjutnya konvulsi klonik kaki
dan tangan seperti gejala keracunan pada strichnin. Nadi normal, pernapasan
mula-mula cepat kemudian perlahan.
Diagnosis
Riwayat kontak dengan insektisida golongan organoklorin
Penatalaksanaan
Tindakan pencegahan :
1. Pestisida sebaiknya disimpan dalam tempat aslinya dengan etiket yang jelas
dan disimpan di tempat yang tidak terjangkau oleh anak-anak, serta jauh dari
makanan dan minuman.
2. Pada waktu menggunakan pestisida, perlu diikuti dengan cermat dan tepat,
sesuai prosedur dan petunjuk lain yang telah ditentukan.
3. Hindari kontak atau menghisap pestisida.

4. Pada waktu bekerja dengan pestisida, sebaiknya tidak sambil makan, minum
atau merokok.
5. Tempat atau wadah pestisida yang telah kosong, sebaiknya dibuang atau
dimusnahkan, demikian juga pestisida yang tidak berlabel atau etiketnya sudah
rusak, sehingga tidak dapat diketahui dengan pasti.
6. Tergantung pada tingkat toksisitasnya, jika bekerja yang berhubungan dengan
pestisida, sebaiknya tidak lebih dari 4 – 5 jam.
Tindakan penanggulangan :
Penanggulangan keracunan pestisida golongan keracunan organoklorin pada
umumnya:
Tindakan gawat darurat:
a. Jika keracunan melalui mulut, usahakan untuk muntah
b. Pantau tanda-tanda vital.
c. Berikan karbon aktif, diikuti bilas lambung dengan air 2 – 4 liter. Kemudian
berikan obat pencuci perut. Pembersihan usus, juga dapat dilakukan dengan
200 mL larutan manitol 20 % dengan melalui pipa.
d. Jangan diberi lemak atau minyak.
e. Jika kulit juga terkena, bersihkan dengan air dan sabun.
Tindakan umum:
1. Untuk mengatasi konvulsi, berikan diazepam 10 mg secara i.v perlahan-lahan.
Jika belum menunjukkan hasil berikan obat yang memblokade neuromuscular.
2. Atasi hiperaktivitas dan tremor, berikan natrium fenobarbital 100 mg secara
s.c setiap jam sampai mencapai jumlah 0,5 g atau sampai konvulsi terkendali.
3. Jangan diberi obat stimulan terutama epinefrin, karena dapat menimbulkan
fibrilasi ventrikuler.
4. KERACUNAN JENGKOL
Kompetensi : 3B
Laporan Penyakit : 1903 ICD X : T.61.-T.62
Definisi
Keracunan akibat terjadinya pengendapan kristal asam jengkol di saluran
kemih. Ciri orang yang rentan pengendapan kristal asam jengkol ini belum
dapat ditentukan.

Penyebab
Asam Jengkolat
Gambaran Klinis
– Bau khas jengkol tercium dari mulut dan urin penderita.
– Timbul kolik ginjal seperti pada batu ginjal.
– Penderita mengeluh nyeri sewaktu buang air kecil.
– Urin penderita merah karena darah (hematuria). Secara mikroskopis, selain
eritrosit tampak kristal asam jengkol seperti jarum.
– Dalam keadaan berat terdapat anuria dan mungkin penderita pingsan karena
menahan sakit.
Diagnosis
Hematuria, nyeri pada saat buang air kecil.
Penatalaksanaan
– Keracunan ringan dapat diobati dengan minum banyak dan pemberian Na.
bikarbonat 2 g 4 x sehari peroral sampai gejala hilang.
– Pada keracunan berat dengan anuria penderita perlu dirujuk.
5. KERACUNAN SINGKONG
Kompetensi : 3B
Laporan Penyakit : 1903 ICD X : T.61.-T.62
Definisi
Beberapa jenis singkong mengandung cukup banyak sianida yang mungkin
menimbulkan keracunan. Tanpa analisa kandungan sianida tidak dapat dipastikan
singkong mana yang berbahaya bila dimakan kecuali dari rasanya.
Penyebab
Sianida ( HCN )
Gambaran Klinis
– Tanda keracunan timbul akut kira-kira setengah jam setelah makan singkong
beracun.
– Gejala berawal dengan pusing dan muntah.
– Dalam keadaan yang berat penderita sesak napas dan pingsan.

- Bibir, kuku, kemudian muka dan kulit berwarna kebiruan (sianosis). Sianosis
perlu dibedakan dengan methaemoglobinemia yang timbul karena
keracunan sulfa, DDS, nitrat atau nitrit, yang memerlukan pengobatan lain
(metilen-biru).
Diagnosis
Riwayat makan singkong disertai dengan gejala klinis.
Penatalaksanaan
– Larutan Na-tiosulfat 25% disuntikan i.v. perlahan sebanyak 20 ml dan diulangi
setiap 7-10 menit sampai gejala teratasi. Dosis total diberikan sampai penderita
bangun, jumlahnya bergantung pada beratnya gejala.
– Berikan oksigen dan pernapasan buatan bila terdapat depresi napas.
– Penderita perlu dioservasi 24 jam dan dikirim ke rumah sakit bila keracunannya
berat.

About these ads

Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: